Mediaborneo.net, Samarinda – Stabilitas harga di Kalimantan Timur (Kaltim) semakin solid. Perkembangan terbaru menunjukkan inflasi Kaltim April 2026 terkendali dengan tren penurunan tekanan pasca momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), menjadi sinyal kuat bagi ketahanan ekonomi daerah.
Data resmi Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,11 persen (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,73 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat 2,50 persen (yoy), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 1,48 persen (ytd), tetap berada dalam rentang sasaran nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, menilai kondisi ini mencerminkan proses normalisasi ekonomi yang berjalan baik setelah lonjakan aktivitas selama Lebaran.
“Tekanan inflasi mulai mereda seiring normalisasi permintaan dan membaiknya pasokan. Ini menunjukkan koordinasi pengendalian inflasi berjalan efektif,” ujar Jajang.
Secara sektoral, kelompok transportasi masih menjadi penyumbang utama inflasi. Kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin, serta biaya pemeliharaan kendaraan terjadi seiring tingginya mobilitas masyarakat dan penyesuaian harga energi, termasuk BBM nonsubsidi dan avtur pasca arus mudik.
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut memberikan tekanan, terutama akibat kenaikan harga LPG 3 kg. Hal ini berdampak pada meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga dan operasional.
Namun di sisi lain, tekanan inflasi berhasil ditekan oleh deflasi pada komponen pangan bergejolak (volatile foods) sebesar -0,47 persen (mtm). Penurunan ini mencerminkan ketersediaan pasokan yang semakin memadai serta distribusi yang lebih lancar pasca HBKN.
Komoditas penyumbang inflasi antara lain tomat, semangka, minyak goreng, jasa servis kendaraan, dan bawang merah. Sementara itu, sejumlah komoditas strategis seperti daging ayam ras, cabai rawit, ikan layang, hingga kacang panjang justru mengalami penurunan harga dan menjadi penahan laju inflasi.
Menurut Jajang, keberhasilan menjaga stabilitas harga tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui implementasi strategi 4K.
“Kami memastikan keterjangkauan harga melalui operasi pasar, menjaga ketersediaan stok, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi kebijakan agar ekspektasi masyarakat tetap terjaga,” katanya.
Hingga April 2026, TPID Kaltim telah melaksanakan lebih dari 200 kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar. Upaya ini didukung penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan OPD teknis, BUMD pangan, dan pelaku usaha.
Di sisi distribusi, pengawasan rantai pasok antarwilayah terus diperketat guna mengantisipasi potensi gangguan logistik yang dapat memicu disparitas harga, terutama untuk komoditas pangan segar.
Tak hanya itu, inovasi digital melalui pengembangan sistem MANDAU Kaltim juga diperkuat sebagai instrumen early warning system untuk mendeteksi potensi gejolak harga dan mempercepat respons kebijakan.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Bank Indonesia optimistis stabilitas harga di Kalimantan Timur akan tetap terjaga dalam jangka menengah.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat sinergi agar inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Jajang. (Oen/M Jay)
