Mediaborneo.net, Samarinda – Di tengah perlambatan transaksi sistem pembayaran non tunai, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Timur justru terus menunjukkan tren positif. Bank Indonesia mencatat, QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi secara digital.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengatakan bahwa hingga November 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltim telah mencapai 841,6 ribu pengguna, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebanyak 832,6 ribu pengguna.
“Peningkatan jumlah pengguna QRIS ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin nyaman dan percaya menggunakan transaksi digital dalam aktivitas sehari-hari,” ujarnya saat acara Temu Media belum lama ini.
Tak hanya dari sisi pengguna, jumlah merchant QRIS juga terus bertambah. Pada November 2025, tercatat sebanyak 780,6 ribu merchant, meningkat dari 763,1 ribu merchant pada Oktober 2025. Menurut Budi, pertumbuhan ini menandakan semakin luasnya akseptasi QRIS, khususnya di sektor UMKM.
“QRIS saat ini menjadi tulang punggung transaksi ritel. Kemudahan, kecepatan, dan keamanannya membuat pelaku usaha maupun konsumen semakin mengandalkannya,” terangnya.
Di sisi lain, kinerja transaksi sistem pembayaran non tunai melalui SKNBI dan RTGS justru mengalami kontraksi. Pada November 2025, nominal transaksi tercatat terkontraksi sebesar 42,6 persen secara tahunan (year on year). Sementara itu, volume transaksi juga mengalami penurunan lebih dalam, yakni 20,6 persen (yoy).
Meski demikian, kinerja transaksi QRIS tetap solid. Sepanjang November 2025, nominal transaksi QRIS di Kalimantan Timur tercatat mencapai Rp1,8 triliun dengan volume transaksi sekitar 17 juta kali transaksi.
“Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan, khususnya pada transaksi ritel dan UMKM yang kini semakin terdigitalisasi,” kata Budi Widihartanto.
Dari sisi uang kartal, Bank Indonesia juga mencatat adanya net outflow sebesar Rp491,2 miliar di Kalimantan Timur pada November 2025. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya preferensi masyarakat terhadap transaksi non tunai, terutama melalui QRIS.
Budi Widihartanto menegaskan, Bank Indonesia akan terus mendorong perluasan ekosistem pembayaran digital di daerah. Menurutnya, penguatan QRIS menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Ke depan, kami optimistis QRIS akan terus tumbuh dan menjadi penggerak utama digitalisasi ekonomi di Kalimantan Timur,” pungkasnya. (Oen/M Jay)












