Mediaborneo.net, Nusantara – Transformasi pertanian lokal IKN kini semakin nyata. Jika sebelumnya aktivitas pertanian berjalan secara terbatas dan mandiri, kini mulai beralih menjadi lebih terstruktur melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Perubahan ini terlihat jelas setelah pertemuan antara Otorita Ibu Kota Nusantara, PT Inhutani I, dan Kelompok Tani Usaha Baru Raya Merdeka.
Sebelumnya, para petani mengelola lahan secara bertahap dengan komoditas terbatas seperti padi. Sistem pengelolaan masih sederhana, tanpa kepastian kerja sama resmi maupun pendampingan terintegrasi.
Namun sekarang, pendekatan itu berubah. Otorita IKN hadir sebagai fasilitator yang memastikan pengelolaan lahan menjadi lebih terarah, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Bahkan, lahan seluas sekitar 1.200 hektare kini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih produktif.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa perbedaan utama terletak pada sistem pengelolaan.
“Dulu berjalan sendiri-sendiri, sekarang kita dorong lewat sistem kerja sama. Tujuannya agar lebih tertib, produktif, dan berkelanjutan,” katanya.
Perbandingan mencolok lainnya terlihat pada dukungan yang diterima petani. Jika sebelumnya minim pendampingan, kini petani akan mendapatkan pembinaan langsung dari pihak perusahaan melalui program pemberdayaan.
Tak hanya itu, rencana penandatanganan MoU menjadi pembeda penting. Jika sebelumnya aktivitas pertanian tidak memiliki payung kerja sama yang kuat, kini akan ada kepastian hukum yang melindungi sekaligus mengatur pemanfaatan lahan.
Dari sisi komoditas, juga terjadi perkembangan. Awalnya hanya fokus pada padi, kini petani mulai mengembangkan berbagai tanaman seperti kelapa dan hortikultura, sejalan dengan konsep pembangunan hijau IKN.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pertanian di IKN tidak lagi berjalan secara konvensional, melainkan bergerak menuju sistem modern yang terintegrasi.
Dengan perubahan ini, IKN tak hanya membangun kota baru, tetapi juga menciptakan model pertanian berkelanjutan yang bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. (Oen/M Jay)












