Inflasi Kaltim Melandai, Harga Ayam dan Cabai Naik

Mediaborneo.net, Samarinda –   Laju inflasi Kalimantan Timur pada Agustus 2026 melambat. Namun, kabar baik tersebut belum sepenuhnya membuat persoalan harga pangan bisa diabaikan.

Berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Kaltim pada Agustus tercatat 0,10 persen secara bulanan (mtm). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Juli yang mencapai 0,18 persen.

Dalam hitungan tahunan, inflasi Kaltim berada di level 3,83 persen, sementara inflasi tahun berjalan mencapai 2,64 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga di daerah masih terkendali.

“Inflasi Provinsi Kalimantan Timur pada Agustus 2026 tetap terkendali dengan tekanan yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Jajang Hermawan, Selasa (1/9/2026).

Meski secara umum melandai, pergerakan harga sejumlah kebutuhan masyarakat justru masih perlu mendapat perhatian. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Agustus.

Gangguan pasokan dari sentra produksi menjadi salah satu pemicunya. Faktor cuaca yang kurang bersahabat dan dampak El Nino turut memengaruhi ketersediaan sejumlah komoditas pangan.

“Tekanan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi, seiring kondisi cuaca yang kurang kondusif dan dampak fenomena El Nino,” terang Jajang.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang kenaikan harga sepanjang Agustus. Daging ayam ras, cabai rawit, kacang panjang, dan jagung manis termasuk komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi.

Menariknya, bukan hanya kebutuhan pangan yang memengaruhi pergerakan inflasi. Biaya pendidikan sekolah dasar juga masuk dalam daftar komoditas yang mendorong kenaikan harga.

“Berdasarkan komoditas, inflasi Kaltim pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh daging ayam ras, cabai rawit, sekolah dasar, kacang panjang, dan jagung manis,” kata Jajang.

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa harga justru bergerak turun. Penurunan harga angkutan udara, bensin, tomat, bawang merah, dan bawang putih membantu menahan laju inflasi Kaltim agar tidak bergerak lebih tinggi.

“Tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, antara lain angkutan udara, bensin, tomat, bawang merah, dan bawang putih,” ujar Jajang.

Pergerakan inflasi juga berbeda di setiap daerah. Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi pada Agustus, yakni 0,52 persen. Berikutnya, Kabupaten Berau mencatat inflasi 0,46 persen, sedangkan Samarinda berada pada level 0,06 persen. Berbeda dengan tiga daerah tersebut, Balikpapan justru mengalami deflasi 0,03 persen.

Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan harga di Kaltim tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasokan dan distribusi masing-masing wilayah.

Untuk menjaga agar tekanan harga tidak kembali meningkat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kaltim memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K.

Empat strategi tersebut mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Di lapangan, upaya menjaga keterjangkauan harga dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, serta berbagai kegiatan stabilisasi harga.

“Pada aspek keterjangkauan harga, TPID terus mendorong pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan kegiatan stabilisasi harga lainnya untuk menjaga akses masyarakat terhadap komoditas pangan strategis dengan harga yang terjangkau,” tutur Jajang.

Persoalan pasokan juga menjadi perhatian. TPID bersama Bulog dan berbagai pihak terkait terus memperkuat pemenuhan kebutuhan komoditas strategis, sekaligus mendorong peningkatan produksi pangan.

Penggunaan teknologi pertanian modern menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk meningkatkan produktivitas.

“Langkah ini diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” kata Jajang.

Dari sisi distribusi, koordinasi lintas sektor terus diperkuat. Fasilitasi distribusi pangan dilakukan agar rantai pasok komoditas strategis tidak tersendat, terutama ketika terjadi gangguan pasokan dari daerah produksi.

“TPID terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan rantai pasok komoditas strategis tetap berjalan lancar, di antaranya dengan pemberian fasilitasi distribusi pangan,” ujar Jajang.

TPID juga memperkuat komunikasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota. Perkembangan harga, serta pasokan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan respons yang diperlukan.

“Komunikasi efektif dilakukan untuk merespons perkembangan harga dan pasokan di wilayah Kalimantan Timur,” kata Jajang.

Capaian inflasi Agustus menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kaltim. Namun, tekanan dari sektor pangan dan faktor cuaca menunjukkan bahwa stabilitas harga tetap membutuhkan pengawasan.

Karena itu, TPID Kaltim akan melanjutkan langkah mitigasi lebih awal agar potensi kenaikan harga dapat ditekan sebelum memberikan dampak lebih besar kepada masyarakat.

“TPID di wilayah Kalimantan Timur akan terus memperkuat sinergi dan langkah mitigasi dini melalui implementasi strategi 4K secara konsisten, termasuk penguatan program pengendalian inflasi dan GPIPS,” tegas Jajang.

Bank Indonesia Kaltim bersama pemerintah daerah berharap stabilitas harga tetap terjaga. Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti daya beli tetap memiliki ruang untuk bertahan, sementara bagi perekonomian daerah, stabilitas harga menjadi salah satu fondasi agar aktivitas ekonomi terus bergerak.

“Stabilitas harga di Kalimantan Timur diharapkan tetap terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, serta aktivitas ekonomi daerah dapat terus berjalan dengan baik,” tutup Jajang Hermawan. (Han/M Jay)

Share
Exit mobile version