Mediaborneo.net, Samarinda – Kinerja penyaluran kredit di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menunjukkan pertumbuhan positif meski dihadapkan pada tekanan perlambatan dana pihak ketiga (DPK). Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, kredit Kaltim pada November 2025 tumbuh sebesar 3,90 persen (year on year/yoy) menjadi Rp192 triliun.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit konsumsi dan kredit investasi, di tengah masih terkontraksinya kredit modal kerja.
“Pertumbuhan kredit Kaltim pada November 2025 tetap terjaga sebesar 3,90 persen (yoy), terutama didorong oleh kredit konsumsi yang tumbuh 7,09 persen dan kredit investasi sebesar 5,83 persen,” ujar Budi Widihartanto, belum lama ini.
Namun demikian, laju pertumbuhan kredit Kaltim masih berada di bawah rata-rata nasional yang tercatat sebesar 6,96 persen (yoy). Bahkan, secara tren, pertumbuhan kredit di Kaltim cenderung melambat sejak awal 2024.
Di tengah dinamika tersebut, stabilitas sistem keuangan di Kaltim tetap terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang masih rendah, yakni 1,70 persen.
Menurut Budi, rendahnya NPL menunjukkan kualitas penyaluran kredit perbankan di Kaltim masih sehat dan terkelola dengan baik.
“Penyaluran kredit tetap dilakukan secara prudent. Risiko kredit masih terjaga rendah, sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan daerah,” katanya.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) Kaltim pada November 2025 masih mengalami kontraksi sebesar 6,74 persen (yoy). Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya giro dan deposito, masing-masing terkontraksi 16,08 persen dan 11,50 persen.
BI Kaltim mencatat, DPK sempat mencapai puncaknya pada triwulan IV 2022, seiring melonjaknya harga batubara global. Namun sejak periode tersebut, tren penghimpunan dana masyarakat terus melambat hingga 2025. Jika dibandingkan nasional, kontraksi DPK Kaltim ini cukup kontras, mengingat secara nasional DPK masih tumbuh 8,16 persen (yoy).
Meski DPK melambat, kinerja intermediasi perbankan di Kaltim tetap terjaga. Secara historis, Loan to Deposit Ratio (LDR) Kaltim berada di atas 100 persen, mencerminkan fungsi intermediasi yang aktif dan optimal dalam mendukung perekonomian daerah.
Budi menegaskan, kondisi ini menunjukkan perbankan di Kaltim masih agresif menyalurkan kredit untuk mendorong aktivitas ekonomi, terutama sektor konsumsi dan investasi.
“Dengan LDR yang tetap tinggi, perbankan di Kaltim masih berperan kuat dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah, meskipun tantangan likuiditas tetap perlu diantisipasi,” pungkasnya. (Oen/M Jay)
