Penguatan Ekonomi Kaltim Melalui Sektor Inklusif

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Budi Widihartanto saat menyampaikan sambutan di kegiatan Deseminasi LPP Kaltim. (Ft: Koko)

MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA   – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Budi Widihartanto, mengatakan, tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan bagi Kaltim, terutama karena dinamika politik baik di Indonesia maupun di negara-negara maju.

“Tantangan Kaltim tidak mudah tahun ini, menjadi yang bersejarah di tengah tahun politik yang berkembang,” ujarnya saat membuka kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kaltim yang mengangkat  tema “Pengembangan Sektor Inklusif sebagai Kunci Penguatan Ekonomi Kaltim”,  di Hotel Fugo Samarinda, Rabu (17/7/2024).

Meskipun ada isu bahwa perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) akan mundur, Budi mengungkapkan rasa syukurnya karena rencana tersebut tetap dilaksanakan dengan pusatnya di Kaltim.

“Ini akan memberikan dampak positif bagi Kaltim dan beberapa daerah lainnya di sekitar Kaltim yang akan berkembang dan pemerataan nasional dengan Kalimantan sebagai porosnya,” katanya.

Dikatakannya, saat ini perekonomian Kaltim masih sangat bergantung pada sektor sumber daya alam, khususnya pertambangan dan minyak, serta gas (migas). Ketergantungan ini membuat ekonomi Kaltim rentan terhadap gejolak harga komoditas.

“Pertumbuhan ekonomi kita yang panjang di Kaltim ini akan mengalami boom ke atas apabila sektor kita naik, tapi apabila saatnya turun, seperti sekarang pertambangan mengalami penurunan, maka kita akan ikut turun,” jelasnya.

Budi juga menyoroti, dimana perbankan mengalami penurunan kredit ketika harga batubara menurun. Sebelum 2022, lanjutnya, pertumbuhan kredit di Kaltim sangat bagus, bahkan mencapai di atas 20 persen, melebihi angka nasional. Namun, saat ini, penurunan harga batubara menyebabkan kredit perbankan juga turun.

Oleh karena itu, Budi menekankan pentingnya pengembangan alternatif di luar sektor pertambangan agar portofolio kredit lebih beragam dan stabil.

Budi menyebut, dengan adanya IKN, peluang dan dampak lain juga turut muncul. Potensi pertambahan penduduk akibat kedatangan tenaga kerja ke Kaltim diperkirakan akan meningkat pesat pada 2024, 2025, dan seterusnya.

“Ke depan, potensi akan semakin mengakselerasi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pokok,” ujar Budi.

“Dampaknya, permintaan yang tinggi akan berpotensi menaikkan harga jika tidak diimbangi dengan suplai yang baik,” sambungnya.

Saat ini, suplai kebutuhan pokok di Kaltim masih sangat terbatas. Beberapa daerah bahkan masih sulit ditanami tanaman pangan. Budi menekankan perlunya perencanaan yang matang oleh Bappeda Kaltim dan pimpinan daerah untuk menjaga lahan pertanian dan perkebunan, agar tidak terekspansi besar-besaran yang dapat mengurangi lahan pertanian yang ada.

“Harapannya ada tanaman pangan yang terus dikembangkan di wilayah ini, meskipun tidak setinggi di Pulau Jawa, tapi paling tidak mampu menstabilisasi kebutuhan pangan di wilayah Kaltim dan menjaga ekonomi Kaltim,” tutupnya. (Koko/M Jay)

Share