Perbandingan Musim Kemarau Kaltim 2026: Lebih Ringan dari 2015, Tapi Risiko Karhutla Tetap Tinggi

Mediaborneo.net, Samarinda –   Musim kemarau di Kalimantan Timur pada 2026 diprediksi memiliki karakter berbeda dibandingkan tahun-tahun ekstrem sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut kemarau tahun ini akan mulai pada Juni dengan puncak pada Agustus, namun intensitasnya dinilai lebih ringan dibandingkan periode kemarau panjang saat fenomena El Niño kuat pada 2015.

Jika pada 2015 sebagian besar wilayah mengalami kekeringan panjang tanpa hujan dalam waktu lama, kondisi 2026 masih memberi peluang terjadinya hujan ringan di beberapa daerah. Hal ini membuat pola kemarau tahun ini cenderung lebih “basah”, meski tetap berada dalam kategori musim kering.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Joko Sumardiono, menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada distribusi curah hujan. Pada 2026, penurunan hujan terjadi secara bertahap mulai Mei, sementara pada tahun ekstrem sebelumnya penurunan berlangsung drastis dan berkepanjangan.

Meski terlihat lebih moderat, kondisi ini justru menghadirkan tantangan tersendiri. Hujan ringan yang masih terjadi berpotensi memicu pertumbuhan vegetasi yang kemudian mengering saat puncak kemarau. Situasi ini dapat meningkatkan bahan bakar alami yang mudah terbakar dan memperbesar risiko karhutla.

Selain itu, perbandingan ini juga menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak boleh berkurang hanya karena kemarau diprediksi lebih ringan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa kebakaran hutan tidak hanya dipicu oleh kekeringan ekstrem, tetapi juga oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali.

BMKG menekankan pentingnya kesiapan sejak dini, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Pemantauan titik panas, pengelolaan lahan, serta kesadaran untuk tidak menggunakan api sembarangan menjadi faktor krusial dalam menekan potensi kebakaran.

Dengan memahami perbedaan karakter musim kemarau antara 2026 dan tahun-tahun ekstrem sebelumnya, masyarakat diharapkan dapat lebih adaptif dan tidak lengah.

Kemarau yang lebih ringan bukan berarti tanpa ancaman, melainkan tetap memerlukan kewaspadaan dan tindakan preventif yang konsisten. (Oen/M Jay)

Share
Exit mobile version