Mediaborneo.net, Samarinda – Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda, kesiapan personel dan kelengkapan peralatan menjadi faktor penting dalam mendukung proses pemadaman. Sebanyak 130 relawan yang berada dalam koordinasi Info Taruna Samarinda (ITS) terus disiagakan untuk membantu penanganan kebakaran.
Dalam menjalankan tugasnya, para relawan tidak hanya dituntut sigap memadamkan api, tetapi juga harus mampu menjaga keselamatan diri di tengah kondisi lapangan yang berisiko.
Ketua ITS-TRC Samarinda, Joko Iswanto, mengatakan relawan yang diterjunkan dalam penanganan karhutla telah dibekali peralatan pendukung, mulai dari mesin portable hingga perlengkapan keselamatan.
“Relawan dibekali dengan mesin portable lengkap selang dan perlengkapan safety,” ujar Joko.
Menurutnya, keberadaan peralatan tersebut sangat membantu relawan ketika melakukan pemadaman, terutama saat menghadapi kebakaran yang membutuhkan penanganan cepat.
Namun, kelengkapan peralatan bukan satu-satunya hal yang harus diperhatikan. Kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan juga menjadi bagian penting dalam setiap operasi pemadaman.
Salah satu risiko yang kerap dihadapi relawan saat menangani karhutla adalah perubahan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan api dan penyebaran asap.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, relawan ITS-TRC Samarinda selalu memantau arah angin selama proses pemadaman berlangsung.
Joko menegaskan, langkah tersebut dilakukan agar personel tidak terjebak dalam kepungan api maupun asap.
“Selalu memantau arah angin untuk menghindari dikepung api dan asap,” jelasnya.
Pemantauan kondisi lingkungan menjadi langkah penting untuk memastikan relawan dapat menjalankan tugas dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Pasalnya, paparan asap dan suhu panas tidak hanya menghambat proses pemadaman, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi personel yang berada di lokasi kebakaran.
Risiko kesehatan tersebut bukan tanpa alasan. Joko mengungkapkan, sekitar 20 relawan ITS-TRC Samarinda sempat mengalami sesak napas ketika melakukan pemadaman karhutla.
Dari jumlah tersebut, 10 relawan mendapatkan perawatan lanjutan. Meski demikian, seluruh relawan yang mengalami gangguan kesehatan tersebut telah sembuh.
“Secara umum rata-rata sesak napas, kurang lebih 20 relawan. Yang mendapat perawatan lanjutan ada 10, namun semua sembuh,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi ITS-TRC Samarinda. Sebab, para relawan yang bertugas di lapangan tidak hanya menghadapi tantangan teknis dalam memadamkan api, tetapi juga harus menjaga kondisi fisik agar tetap mampu menjalankan tugas.
Dalam upaya penanganan karhutla, ITS-TRC Samarinda mendapatkan dukungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar).
Meski demikian, Joko berharap pemerintah kota dapat terus memberikan dukungan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana.
“Kepada pemerintah kota mohon dukungan sarana dan prasarana, termasuk dukungan peralatan dan dana,” harapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menunjukkan kepedulian terhadap relawan yang sedang menjalankan tugas pemadaman.
Bantuan berupa air minum dan makanan siap santap dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan para personel selama berada di lapangan.
“Kepada masyarakat, bantu saat melihat relawan melakukan pemadaman. Baik dengan air minum maupun makanan siap santap,” tuturnya.
Joko menegaskan, keselamatan harus selalu menjadi prioritas bagi seluruh relawan.
“Selalu safety saat melakukan pemadaman,” pungkasnya. (Koko/M Jay)
