MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Di era berkembang saat ini, perpustakaan tidak lagi berperan sebagai tempat layanan peminjaman dan pengembalian buku secara manual. Namun perpustakaan sekarang juga memiliki peran untuk memfasilitasi masyarakat dalam hal mengembangkan potensi yang dimiliki, agar dapat berdaya guna.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, Perpustakaan Nasional melalui Dinas Perpustakaan yang ada di bawahnya di seluruh Indonesia, termasuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPK) Kaltim telah mengembangkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Program ini merupakan suatu upaya pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan.

“Jadi, fungsi perpustakaan tidak seperti dulu lagi. Fungsinya, bagaimana kami bisa melaksanakan program inklusi sosial ini terus berjalan, sehingga masyarakat dengan perpustakaan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing,” terang Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kaltim HM Syafranuddin.

Dia mengatakan, peran perpustakaan umum dalam program berbasis inklusi sosial ini adalah pembinaan perpustakaan yang menyasar mulai dari sekolah-sekolah, pedesaan hingga komunitas masyarakat. Tentunya, dalam pelaksanaan program akan dibuat variasi layanan perpustakaan sesuai kebutuhan dan integrasi program dengan stakeholder atau institusi pemerintah daerah.

“Dengan ini, maka kualitas masyarakat di semua lapisan akan ikut terangkat,” katanya.

HM Syafranuddin berharap, melalui program program berbasis inklusi sosial ini akan mampu menciptakan kesadaran masyarakat untuk berkembang dan keswadayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan, sehingga mampu meminimalisir ketergantungan pada pihak-pihak di luar dirinya. (Adv64/Koko/M Jay)

Don`t copy text!