Ragam  

Valentine’s Day, Tidak Menelan Setiap Tren Global

Ketua Fokal IMM Kalimantan Timur, Maskur Sarmian.

MASYKUR SARMIAN
Ketum Fokal IMM Kalimantan Timur
Periode 2022–2027

Perang modern tidak selalu hadir dalam bentuk konflik bersenjata. Dalam banyak kasus, ia bekerja lebih halus melalui budaya populer, gaya hidup, dan perayaan simbolik. Salah satu contohnya adalah Valentine’s Day, yang kerap dipersepsikan sekadar sebagai hari kasih sayang, padahal menyimpan muatan nilai yang patut dikaji secara kritis.

Valentine’s Day bukan peristiwa netral. Ia merupakan produk peradaban tertentu yang membawa cara pandang tentang relasi, cinta, dan kebahagiaan. Di sinilah ia masuk ke wilayah perang pemikiran (ghazwul fikr)—sebuah proses sistematis yang menggeser nilai masyarakat tanpa paksaan, tetapi melalui pembiasaan.

Secara sosial, Valentine’s Day dipromosikan sebagai ekspresi cinta universal. Namun dalam praktiknya, perayaan ini sering kali menormalisasi relasi emosional tanpa ikatan moral yang jelas. Cinta direduksi menjadi perasaan sesaat, dilepaskan dari tanggung jawab jangka panjang, dan diposisikan sebagai urusan personal semata. Narasi ini bertabrakan dengan pandangan Islam yang menempatkan cinta sebagai amanah, bukan sekadar emosi.

Islam tidak menafikan cinta. Sebaliknya, Islam mengaturnya agar bermartabat dan melindungi manusia dari dampak kebebasan yang tak terkendali. Rasulullah SAW bersabda : “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa cinta diarahkan pada komitmen dan tanggung jawab, bukan sekadar ekspresi rasa.

Perang pemikiran tidak bekerja dengan larangan keras. Ia bekerja melalui normalisasi. Apa yang semula dipertanyakan, lama-kelamaan dianggap wajar. Melalui iklan, media sosial, film, dan industri gaya hidup, Valentine’s Day dibingkai sebagai tradisi global yang “tidak ada salahnya”. Pada tahap ini, masyarakat tidak lagi bertanya tentang nilai di balik simbol.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud). Hadits ini bukan seruan isolasionisme, melainkan peringatan agar umat tidak kehilangan identitas nilai ketika meniru budaya yang membawa pandangan hidup berbeda.

Dampak sosial dari budaya cinta tanpa nilai tidak sulit ditemukan. Relasi semakin bebas, tetapi komitmen semakin rapuh. Ekspresi kasih sayang semakin terbuka, namun institusi keluarga justru mengalami krisis. Dalam konteks ini, larangan Al-Qur’an untuk tidak mendekati zina (QS. Al-Isra’: 32) menunjukkan kepekaan Islam terhadap proses budaya yang membuka jalan pada kerusakan moral, bukan sekadar pada pelanggaran akhirnya.

Sikap kritis terhadap Valentine’s Day tidak identik dengan sikap anti-Barat, anti-modernitas, atau anti-cinta. Yang dibutuhkan adalah kesadaran nilai. Masyarakat yang dewasa secara peradaban tidak menelan setiap tren global tanpa penyaringan. Ia bertanya: nilai apa yang dibawa? dampak apa yang ditimbulkan ? dan apakah ia sejalan dengan prinsip moral yang diyakini ?

Islam tidak memusuhi cinta, tetapi menempatkannya dalam kerangka tanggung jawab. Tidak menolak kebahagiaan, tetapi mengarahkannya agar tidak merusak manusia itu sendiri. Dalam konteks ini, Valentine’s Day layak dibaca sebagai bagian dari dinamika global yang berupaya menggeser orientasi nilai—bukan melalui paksaan, tetapi melalui simbol dan kebiasaan.

Tantangan umat hari ini bukan sekadar menolak atau menerima, melainkan memahami dan menawarkan alternatif. Cinta yang beradab, relasi yang bertanggung jawab, dan kebahagiaan yang tidak tercerabut dari nilai moral adalah tawaran yang relevan dan manusiawi.

Sebab cinta sejati bukan yang dirayakan sehari dalam kalender, melainkan yang dijaga konsistensinya sepanjang hidup dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.(***/sk)

Share