10 Insinerator Dinilai Mampu Atasi Sampah Samarinda

Mediaborneo.net, Samarinda –   Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memperkuat sistem pengelolaan sampah melalui pengoperasian 10 unit insinerator mendapat dukungan dari DPRD Samarinda.

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai mampu mengolah seluruh produksi sampah harian yang mencapai sekitar 600 ton, asalkan diimbangi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Muhammad Andriansyah, mengatakan kapasitas 10 unit insinerator telah diperhitungkan untuk menjawab kebutuhan pengolahan sampah di Kota Tepian.

Menurutnya, setiap unit mampu mengolah sekitar 20 ton sampah dalam waktu delapan jam sehingga kapasitasnya dapat meningkat jika dioperasikan lebih dari satu shift.

“Secara matematika dan teori, kapasitas 10 insinerator itu sebenarnya sudah cukup untuk menangani produksi sampah harian Samarinda yang berkisar 600 ton. Harapannya, sampah yang memang dapat dibakar bisa selesai ditangani dalam satu hari,” ujar Andriansyah.

Dia menjelaskan, apabila setiap insinerator dioperasikan dua hingga tiga shift dalam sehari, kapasitas pengolahan dapat mencapai 40 hingga 60 ton per unit. Dengan begitu, total kemampuan pengolahan seluruh fasilitas diperkirakan berada di kisaran 400 hingga 600 ton sampah setiap hari.

“Kalau seluruh unit berjalan optimal, kapasitasnya sangat memungkinkan untuk mengimbangi jumlah sampah yang diproduksi masyarakat setiap harinya,” katanya.

Menurutnya, perhitungan jumlah insinerator juga sudah memasukkan aspek operasional dan pemeliharaan. Karena itu, apabila ada satu unit yang harus menjalani perawatan, unit lainnya tetap dapat beroperasi sehingga pelayanan pengelolaan sampah tidak terganggu.

“Sudah kami hitung. Jika ada satu unit yang masuk masa pemeliharaan, unit lainnya tetap bekerja sehingga proses pengolahan sampah tetap berjalan normal,” terangnya.

Selain mengandalkan insinerator, DPRD Samarinda juga menaruh harapan besar terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan.

Proyek yang didukung pendanaan Danantara itu dinilai akan menjadi solusi jangka panjang dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi yang dimiliki pemerintah tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa dukungan masyarakat.

Dia menegaskan perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam mengurangi volume sampah yang terus meningkat setiap tahun.

“Yang paling penting sebenarnya ada di hulu, yaitu dari rumah tangga. Kalau produksi sampah bisa ditekan hingga 50 persen, tentu beban pengolahan akan jauh lebih ringan. Sampah yang masuk ke TPA benar-benar hanya yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi,” tegasnya.

Dia mengajak masyarakat mulai membiasakan diri mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan, serta melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

“Kesadaran masyarakat menjadi faktor penentu. Kalau sejak awal sampah sudah dipilah, proses pengelolaan akan jauh lebih efektif dan efisien,” ucapnya.

Dia juga mencontohkan kebijakan di Jakarta yang mulai menerapkan aturan tidak mengangkut sampah rumah tangga yang belum dipilah. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kota Samarinda dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

“Jangan menunggu aturan yang lebih ketat. Kalau masyarakat sadar bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama, mereka pasti akan berusaha mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)

Share
Exit mobile version