Mediaborneo.net, Samarinda – Upaya meningkatkan produktivitas pangan di Kalimantan Timur mulai menunjukkan hasil. Penerapan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) pada budidaya padi di Kabupaten Kutai Kartanegara mampu mendorong hasil panen hingga 6,95 ton per hektare, atau meningkat 44,8 persen.
Capaian tersebut diperoleh melalui demonstration plot (demplot) padi di Gapoktan Mandiri, Kecamatan Anggana, yang dikembangkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (KPwBI Kaltim) bersama Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mitra terkait.
Pengembangan LEISA menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan pertanian yang semakin kompleks. Perubahan cuaca, kebutuhan efisiensi biaya produksi, serta tuntutan peningkatan hasil membuat inovasi budidaya semakin dibutuhkan oleh petani.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan penguatan sektor pertanian harus dilakukan secara konsisten untuk membangun ketahanan pangan daerah.
“Penguatan sektor pertanian perlu terus dilakukan secara konsisten untuk membangun ketahanan pangan daerah yang semakin kuat,” kata Jajang.
Dalam penerapannya, metode LEISA dipadukan dengan budidaya padi berbasis bio-invigorasi benih. Pendekatan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi KPwBI Kaltim dengan peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Hasil demplot menunjukkan produktivitas mencapai 6,95 ton per hektare. Angka itu menjadi catatan penting karena peningkatan produksi tersebut diperoleh di tengah tantangan cuaca selama periode budidaya.
Jajang menilai capaian tersebut memperlihatkan peluang LEISA untuk dikembangkan lebih luas. Menurutnya, keberhasilan di Anggana dapat menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan replikasi pada kelompok tani lainnya.
“Capaian tersebut memperkuat potensi metode LEISA untuk terus dikembangkan dan direplikasi pada kelompok tani lainnya guna mendukung peningkatan produksi pangan di Kalimantan Timur,” ujarnya.
Peningkatan hasil panen melalui LEISA juga menjadi bagian dari agenda yang lebih besar, yakni memperkuat kapasitas produksi pangan lokal. Bagi daerah, peningkatan produktivitas menjadi penting karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan, tetapi juga kemampuan menghasilkan produksi secara optimal dan berkelanjutan.
Program pengembangan pertanian di Anggana kemudian diperkuat dengan penerapan digital farming. Salah satu teknologi yang digunakan adalah drone sprayer agriculture untuk penyemprotan pestisida, pupuk maupun pembenihan.
Pemanfaatan drone memberikan efisiensi signifikan dalam proses budidaya. Pekerjaan penyemprotan yang sebelumnya membutuhkan sekitar enam hingga delapan jam per hektare dapat dipangkas menjadi hanya delapan hingga sepuluh menit per hektare.
Efisiensi waktu tersebut mencapai sekitar 50 kali lipat. Dari sisi biaya, penggunaan teknologi juga mampu menekan biaya produksi sekitar 10–25 persen.
Hingga saat ini, drone sprayer agriculture telah digunakan sebanyak 1.637 flights dengan cakupan lahan mencapai 204,82 hektare.
Menurut Jajang, perkembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih efisien, sekaligus adaptif terhadap berbagai tantangan.
“Berbagai tantangan, antara lain perubahan cuaca, sumber daya produksi, serta kebutuhan peningkatan efisiensi budidaya, mendorong perlunya penerapan inovasi dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani,” tuturnya.
Modernisasi pertanian di Gapoktan Mandiri tidak berhenti pada proses budidaya. Penguatan ekosistem juga dilakukan melalui penggunaan combine harvester serta peninjauan Rice Milling Unit (RMU) sebagai bagian dari pengembangan rantai pertanian dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut sekaligus mendukung strategi pengendalian inflasi 4K, terutama dari sisi ketersediaan pasokan. Ketika produktivitas meningkat dan proses produksi menjadi lebih efisien, kapasitas pasokan pangan daerah diharapkan ikut menguat.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan modernisasi pertanian perlu terus diperluas agar manfaat teknologi dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Modernisasi pertanian perlu terus diperluas hingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani,” kata Seno Aji.
Dia juga mengapresiasi kolaborasi Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan Gapoktan Mandiri dalam mengembangkan pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.
“Kolaborasi Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Politani Samarinda, dan Gapoktan Mandiri menjadi bukti bahwa pertanian Kalimantan Timur terus bergerak menuju sistem yang lebih produktif, efisien, modern, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi KPwBI Kaltim, pengembangan pertanian tidak hanya diarahkan pada peningkatan hasil panen. Program juga mencakup penerapan good agricultural practices, penguatan kelembagaan kelompok tani, peningkatan kapasitas petani hingga hilirisasi produk pertanian.
“KPwBI Kaltim secara konsisten menjalankan berbagai program pengembangan sektor pertanian melalui penerapan digital farming, fasilitasi good agricultural practices, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta peningkatan kapasitas dan hilirisasi produk pertanian,” terang Jajang.
Keberhasilan demplot LEISA di Anggana selanjutnya diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas penerapan teknologi dan metode pertanian serupa ke wilayah lain. Dengan demikian, peningkatan produktivitas tidak hanya menjadi capaian satu kelompok tani, tetapi dapat berkembang menjadi model penguatan produksi pangan di Kalimantan Timur.
“Implementasi LEISA dan digital farming di Gapoktan Mandiri diharapkan tidak berhenti sebagai demplot, namun terus dievaluasi, dikembangkan, dan direplikasi ke wilayah pertanian lainnya di Kalimantan Timur,” pungkas Jajang. (Oen/M Jay)
