MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Kendati belum memiliki ruangan khusus untuk perpustakaan sekolah, namun SMP Negeri 44 Samarinda tak kehabisan inovasi. Pihak sekolah membuat pojok baca dengan menyediakan koleksi buku beragam.

Menurut Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 44 Samarinda, Rohmat, di sekolahnya sebenarnya sudah sejak lama berencana untuk membuat perpustakaan. Namun persoalannya, anggaran untuk perpustakaan tersebut belum tersedia.

“Iya, memang belum ada bangunan untuk perpustakaan di sekolah kami. Tapi sebenarnya dari dulu sudah direncanakan, tetapi tidak tahu kapan akan dibangun,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah yang berada di Jalan Gotong Royong, Kecamatan Palaran tersebut memang sudah sejak lama ada. Tetapi belum mendapatkan alokasi bantuan dari pemerintah untuk pengadaan ruang khusus perpustakaan. Walaupun, dari OPD terkait dan DPRD Samarinda sudah beberapa kali melakukan peninjauan sekolah.

“Dari Dinas Pendidikan katanya ada bantauan, tapi sampai sekarang belum turun. Pak Asli (Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, red) juga sering meninjau ke sini beserta Dewan DPRD Samarinda, tanggapannya sama, masalahnya di anggaran,” katanya.

Untuk sementara, kata Rohmat, pihak sekolah SMP Negeri 44 Samarinda membuatkan pojok baca. Koleksi buku-buku yang disediakan pun beragam, walaupun jumlahnya terbatas.

“Sementara kita buatkan pojok baca di bawah tangga. Bukunya tentang buku anak-anak, kamus-kamus. Kalau untuk referensi ada dari dana Bosda dan Bosnas, cuma yang dipinjamkan ke siswa adalah buku K13, kalau untuk kurikulum Merdeka belum turun,” terangnya.

Dikatakannya, seluruh siswa SMP Negeri 44 Samarinda tercatat sebagai anggota perpustakaan dan diperbolehkan untuk meminjam buku. Pihak sekolah, lanjut Rohmat, tidak mengenakan sanksi keterlambatan pengembalian buku pada siswa. Namun jika buku hilang, maka siswa diminta untuk dapat foto copy buku yang mirip dengan buku yang hilang tersebut.

“Sejak mereka masuk sekolah, mereka sudah tercatat sebagai anggota perpustakaan, boleh meminjam buku. Biasanya buku yang dipinjam semuanya kembali, tapi kalau hilang biasanya kita minta untuk foto copy, karena kalau beli baru agak mahal dan susah. Kami juga tidak menerapkan sanksi lambat pengembalian buku, yang penting bukunya dikembalikan saja,” bebernya.

Rahmat berharap, ke depan sekolahnya mendapat bantuan alokasi anggaran untuk penyediaan sarana dan prasarana, serta fasilitas perpustakaan sekolah.

“Semoga sarana perpustakaan ada, karena anak-anak untuk menumbuhkan minat baca anak-anak,” tutupnya. (Adv DPK Kaltim/Koko/M Jay)

Don`t copy text!