BI: Ekonomi Kaltim 2026 Lebih Prospektif, Industri dan IKN Jadi Penopang Utama

Mediaborneo.net, Samarinda –   Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2026 akan tumbuh lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme ini didorong oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan, berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta masuknya investasi baru di berbagai sektor strategis.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyampaikan bahwa meskipun tekanan global masih membayangi, fondasi ekonomi Kaltim dinilai cukup solid untuk menjaga momentum pertumbuhan.

“Kinerja ekonomi Kaltim pada 2026 diperkirakan tetap positif. Penguatan sektor industri pengolahan dan konstruksi menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan,” katanya pada acara Temu Media, Rabu malam (21/1/2026).

Pada paparannya, Budi Widihartanto menjelaskan, bahwa sektor industri pengolahan diproyeksikan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Kaltim. Salah satu katalis utamanya adalah penambahan kapasitas refinery migas sekitar 50 ribu barel per hari yang dijadwalkan beroperasi pada triwulan III 2026.

Selain itu, pengembangan eksplorasi gas yang dimulai sejak akhir 2025 diperkirakan mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi industri turunan pada 2026.
Kondisi ini melanjutkan tren positif tahun sebelumnya, di mana aktivitas industri meningkat seiring optimalisasi kilang migas dan bertambahnya fasilitas pengolahan, termasuk smelter baru yang mulai menembus pasar ekspor.

Dari sisi konstruksi, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menjadi motor pertumbuhan. Sejumlah proyek besar direncanakan berjalan pada 2026, terutama pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif.

Anggaran pembangunan sektor ini diperkirakan meningkat sekitar 6 persen dibandingkan tahun 2025. Selain proyek pemerintah, investasi swasta di Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga turut mendorong pertumbuhan sektor konstruksi.

Sektor pertanian juga diproyeksikan berkontribusi positif. Target optimalisasi lahan (oplah) di Kaltim ditingkatkan hingga 3.000 hektare, seiring berlanjutnya program CSR dan penguatan ketahanan pangan daerah.

Sementara itu, kinerja industri pengolahan dinilai mampu menutup pelemahan sektor pertambangan yang masih terdampak tren penurunan permintaan batu bara global.

Meski prospeknya cerah, BI Kaltim mencatat adanya tantangan dari sisi eksternal. Permintaan batu bara global, khususnya dari Tiongkok, diperkirakan turun sekitar 1,49 persen (yoy) seiring percepatan transisi energi terbarukan. Selain itu, melambatnya ekonomi global dan penyesuaian anggaran pembangunan turut menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Namun demikian, Budi Widihartanto menegaskan bahwa struktur ekonomi Kaltim yang semakin beragam menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas pertumbuhan.

“Dengan penguatan industri, pembangunan IKN, serta masuknya investasi baru, ekonomi Kaltim diyakini tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan pada 2026,” tutupnya. (Oen/M Jay)

Share
Exit mobile version