Program Ekstrakurikuler Robotika di IKN Dimulai, Guru dan Sekolah Masih Kejar Kesiapan Teknologi

Mediaborneo.net, Nusantara –   Pengembangan ekstrakurikuler robotika di sekolah mulai digerakkan di kawasan Ibu Kota Nusantara melalui program pelatihan guru atau Training of Trainers (ToT).

Program ini menjadi pintu masuk pembentukan ekosistem talenta digital Indonesia, namun di lapangan para guru mengakui masih berada pada tahap awal pembelajaran.

Otorita Otorita Ibu Kota Nusantara menggandeng sejumlah sekolah di wilayah penyangga dan inti IKN untuk mulai mengenalkan robotika sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Sebanyak 20 sekolah, terdiri dari SMP hingga SMA/MA, terlibat dalam program ini. Program ini tidak hanya fokus pada siswa, tetapi terlebih dahulu menyasar guru sebagai pelatih utama di sekolah.

Salah satu peserta pelatihan, Ayu Desi Wilujeng, guru dari SMA Negeri 3 Penajam Paser Utara, mengaku harus benar-benar memulai dari dasar.

“Awalnya kami belum tahu sama sekali soal robotika. Dari pelatihan ini baru mulai paham, terutama saat praktik langsung merakit dan mencoba programnya,” ujarnya.

Menurut Ayu, sekolahnya kini tengah menyiapkan pembentukan ekstrakurikuler robotika dengan sekitar 20 siswa yang akan terlibat. Kegiatan direncanakan berjalan rutin setiap pekan.

“Targetnya anak-anak bisa ikut lomba, tapi kami sendiri masih belajar juga. Jadi jalan bareng,” katanya.

Hal serupa disampaikan Dwi Setyo Prabowo, guru dari SMA Negeri 2 Samboja. Ia menyebut pelatihan ini sebagai pengalaman pertama yang cukup menantang.

“Ini hal baru bagi kami. Justru karena perkembangan teknologi cepat, kami merasa harus ikut belajar supaya tidak tertinggal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sekolahnya sudah mulai merancang jadwal ekstrakurikuler robotika yang rencananya digelar setiap Jumat.

Program ToT robotika ini dilakukan bertahap, mulai dari pelatihan daring, lalu dilanjutkan sesi tatap muka, hingga pendampingan selama empat bulan bersama perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Negeri Samarinda.

Namun dari pengamatan di lapangan, sebagian besar peserta masih berada pada tahap pengenalan dasar, mulai dari memahami komponen robot hingga logika pemrograman sederhana.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Otorita IKN, Tonny Agus Setiono, mengatakan pelatihan ini memang dirancang untuk memperkuat pondasi guru sebelum mengajar siswa.

“Fokusnya bukan hanya teori, tapi bagaimana guru bisa praktik langsung dan kemudian menularkan ke siswa di sekolah,” ujarnya.

Meski masih dalam tahap awal, program ini menjadi salah satu uji coba pembentukan ekosistem pendidikan berbasis teknologi di IKN. Setiap sekolah peserta dibekali perangkat robotika seperti toolkit, trainer kit, serta robot sederhana seperti wall follower dan transporter.

Namun tantangan terbesar bukan pada alat, melainkan kesiapan sumber daya manusia yang masih harus mengejar pemahaman dasar.

Dengan kondisi tersebut, program robotika di IKN saat ini lebih terlihat sebagai proses belajar bersama ketimbang implementasi matang. Pemerintah berharap dalam beberapa tahun ke depan, sekolah-sekolah ini bisa menjadi model pengembangan ekstrakurikuler robotika nasional. (*/Oen/M Jay)

Share
Exit mobile version