Mediaborneo.net, Samarinda – Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pencegahan TBC dan HIV/AIDS di Samarinda mulai mengarah pada evaluasi serius terhadap pola edukasi kesehatan masyarakat.
Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Samarinda menilai, selama ini pendekatan sosialisasi belum menyentuh perubahan perilaku secara mendasar.
Ketua Pansus IV, Sri Puji Astuti, menyebut bahwa banyak masyarakat sebenarnya sudah pernah mendapatkan informasi terkait TBC dan HIV, namun belum memahami praktik pencegahannya secara utuh.
“Masalahnya bukan tidak tahu, tapi belum benar-benar paham cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dia menambahkan, tantangan terbesar penanganan penyakit menular di Samarinda justru berada pada aspek kesadaran individu.
Menurutnya, program kesehatan yang sudah berjalan masih perlu diperkuat dengan metode edukasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Selain itu, Pansus IV juga menyoroti keterbatasan efektivitas anggaran kesehatan yang sebagian besar masih terserap untuk belanja rutin pegawai. Kondisi ini dinilai mengurangi ruang untuk program intervensi langsung kepada masyarakat.
Dari hasil kunjungan lapangan ke sejumlah fasilitas kesehatan, ditemukan bahwa penanganan TBC dan HIV tidak hanya bergantung pada layanan medis, tetapi juga pada faktor sosial dan budaya masyarakat yang masih kurang peduli terhadap kesehatan.
Sri Puji menegaskan bahwa Raperda baru ini diharapkan mampu memperkuat pendekatan promotif dan preventif, bukan hanya kuratif.
“Kami ingin regulasi ini benar-benar mendorong perubahan perilaku masyarakat,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)












