Mediaborneo.net, Jogyakarta – Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong transformasi sektor pertanian melalui penerapan digital farming dan metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayu Adi Hardiyanto mengatakan penerapan teknologi pertanian tersebut menjadi bagian dari pendampingan BI kepada pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.
“Kalau kami ini amanah dari kantor pusat, sifatnya strategic advisory. Kami memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah, khususnya bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mengendalikan inflasi,” ujar Bayu, Kamis (18/9/2026).
Salah satu program yang dikembangkan adalah demplot pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Program tersebut menerapkan metode LEISA dengan mengoptimalkan sumber daya lokal, serta memanfaatkan teknologi digital farming, termasuk drone sprayer untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida.
Hasil demplot menunjukkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Produksi padi yang sebelumnya berada di kisaran 4,8 ton per hektare meningkat menjadi 6,95 ton per hektare, atau naik sekitar 44,8 persen.
Selain meningkatkan hasil panen, penggunaan drone sprayer juga memberikan efisiensi dari sisi waktu. Proses pemupukan dan penyemprotan yang sebelumnya membutuhkan sekitar 6–8 jam per hektare dapat dipangkas menjadi sekitar 10 menit per hektare.
Bayu mencontohkan penerapan digital farming yang telah dilakukan di kawasan Bukit Biru, Kukar. Menurutnya, hasil demplot tersebut menunjukkan teknologi dapat memberikan manfaat nyata bagi petani.
“Di Bukit Biru, Kukar, kami juga melakukan demplot. Hasilnya lumayan, kami bisa meningkatkan jumlah panen,” katanya.
Menurut Bayu, teknologi drone sprayer tidak hanya menawarkan efisiensi biaya dan waktu, tetapi juga membantu petani mengatasi keterbatasan tenaga kerja. Kondisi tersebut menjadi relevan di Kaltim karena sebagian tenaga kerja memilih bekerja di sektor lain, termasuk pertambangan.
Drone sprayer yang digunakan juga memiliki kemampuan pemetaan berbasis teknologi. Petani dapat menentukan area penyemprotan, serta memperkirakan kebutuhan pupuk sehingga distribusinya lebih merata.
“Kalau terbang itu, dari sisi biaya dan waktu sangat membantu. Sekarang mencari orang untuk menyemprot juga agak susah. Dengan drone sprayer, lokasi yang akan disemprot bisa dipatok, termasuk jumlah kandungan pupuk yang digunakan, sehingga bisa rata,” terangnya.
Keberhasilan pilot project tersebut mulai mendorong petani untuk mengadopsi teknologi secara mandiri. BI Kaltim sebelumnya telah menjalankan pilot project digital farming di sejumlah lokasi. Dari enam lokasi yang dikembangkan, manfaat penggunaan drone mulai dirasakan petani, bahkan sebagian di antaranya memilih membeli drone secara mandiri.
BI Kaltim berharap pola serupa dapat diterapkan dalam pengembangan metode LEISA. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar teknologi dan pendekatan pertanian berkelanjutan tersebut dapat diadopsi petani secara lebih luas.
Langkah ini dinilai penting mengingat 70–80 persen kebutuhan pangan Kalimantan Timur masih dipasok dari luar daerah. Karena itu, peningkatan produksi pangan lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi.
“Harapannya, kalau yang terdahulu sudah berhasil, dengan LEISA ini juga bisa berhasil. Kalau berhasil kemudian ditiru petani, ke depan penguatan ketahanan pangan dan komoditas pangan strategis bisa kita peroleh di Kalimantan Timur,” ujar Bayu.
BI Kaltim menargetkan pengembangan program tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Jika produktivitas dan efisiensinya terbukti konsisten, teknologi tersebut diharapkan dapat direplikasi oleh petani dan kelompok tani di wilayah lain.
Pengembangan digital farming Kaltim, penerapan LEISA, serta pemanfaatan drone sprayer menjadi salah satu pendekatan BI Kaltim untuk memperkuat produksi pangan lokal. Selain berdampak terhadap produktivitas petani, program tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengendalian inflasi di Kalimantan Timur.
“Kita tidak tergantung dengan pasokan dari luar. Kita kurangi, bahkan kalau kebalikannya, kita berharap ke depan bisa memasok ke luar,” pungkasnya. (Oen)












