MEDIABORNEO.NET, PULAU KOMODO – Namanya Hanor, pria kelahiran 42 tahun silam ini sudah sangat akrab dengan hewan Komodo yang hidup di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur sejak kecil.

Pria ini adalah satu diantara 40 Ranger atau pemandu wisata yang ada di Taman Nasional Komodo sejak 15 tahun silam.

Sebagai Ranger, pria ramah dan santun ini memiliki tugas memberikan informasi mengenai jalur atau lintasan yang akan dilalui atau yang merupakan lintasan yang akan dilalui, hingga detail jalur tracking yang akan dilalui wisatawan di Taman Nasional Komodo.

Hari ini, Hanor mendapatkan giliran untuk memandu rombongan dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur dan wartawan dalam rangkaian kegiatan Capacity Building Wartawan tahun 2022, Senin (12/12/2022).

Kepada rombongan yang dipimpin langsung oleh Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur Ricky P Gozali didampingi Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Hendik Sudaryanto, Hanor memberikan informasi mengenai kehidupan Komodo dan habitat lain yang ada di Pulau Komodo.

Baru melangkah kurang dari 5 menit, kelompok rombongan Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur dan wartawan sudah melihat seekor babi hutan dan anak dari Komodo.

Hanor pun langsung menjelaskan mengenai kedua hewan tersebut dengan rinci dan detail. Di tangannya, Hanor memegang sebuah tongkat kayu berukuran sekitar 2 meter dan memiliki dua cabang pada puncak tongkat kayu.

Perjalanan kembali berlanjut, sekitar 10 menit kemudian, rombongan diperlihatkan seekor Komodo yang tengah beristirahat di bawah sebuah pohon. Komodo itu terlihat santai dan merasa tak terganggu dengan kehadiran banyak orang yang ada di sekitarnya.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sekitar jalur masuk hutan. Di lokasi ini kembali rombongan ditunjukkan pada seekor Komodo berukuran lebih dari 2 meter. Perjalanan berakhir setelah rute selesai di lalui.

Di sela-sela waktunya, Hanor menceritakan, bahwa Komodo yang ada di Pulau Komodo, khususnya di Taman Nasional Komodo berjumlah sekitar 1.728 ekor dengan berbagai usia. Hidup di luas pulau sekitar 33 ribu hektar tersebut, ketersediaan makanan Komodo dipastikan masih tetap terjaga, sehingga dipastikan pula jumlah populasi Komodo meningkat setiap tahunnya.

“Estimasi data tahun 2021 sekitar 1.728 ekor. Data itu dari peneliti Komodo Survival Program (KSP) yang bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Komodo, ” ujarnya.

Menurut dia, setiap setahun dua kali KSP selalu melakukan pengecekan jumlah populasi Komodo. Untuk data populasi Komodo terbaru di tahun 2022 akan diterima pada awal. 2023.

“Untuk rasio jumlah populasi Komodo di sini banyak jantan. Bandingannya 1 jantan, 3 betina. Usia tertua Komodo di sini 50 sampai 60 tahun, ” katanya.

Dikatakan Hanor, pertambangan setiap tahunnya jumlah populasi Komodo karena faktor alam yang mendukung dan makanan yang tersedia.

“Ekosistem di sini selalu berputar. Seperti rusa, babi, kerbau. Itu semua tetap stabil dan tidak pernah punah, ” sebutnya.

Dikatakan Hanor, di Pulau Komodo terdapat juga warga lokal yang tinggal di lokasi, jumlah sekitar 1.800 jiwa, dengan suku bernama Ata Modo.

Hanor mengisahkan, keberadaan Komodo di Pulau Komodo tidak terlepas dari kisah turun temurun yang menceritakan bahwa dulunya di daerah tersebut ada seorang ibu yang melahirkan dua anak. Seorang manusia yang diberi nama Orah (sebutan betina, red) yang merupakan Komodo. Sedangkan seorang anak lainnya berwujud Komodo yang diberi nama Gerong, merupakan manusia.

“Itu legendanya dari satu rahim. Komodo dilahirkan kembar, satu manusia, satu Komodo ” katanya.

Terkait dengan jumlah pengunjung saat ini, diakui Hanor, wisatawan nasional maupun internasional yang datang berkunjung mengalami penurunan.

“Desember ini memang setiap tahun turun, karena liburan. Estimasi sehari sekitar 200 sampai 400 orang. Tapi kalau Sabtu bisa 1.000 orang, ” katanya.

“Kami bekerja dibagi 2. Jumlahnya 40 petugas, setiap 10 hari bergiliran, ” ujarnya.

Mengenai tiket masuk Taman Nasional Komodo yang sebelumnya sempat ramai dikabarkan mengalami lonjakan hingga Rp 3 juta lebih, Hanor menyebut, bahwa tiket masuk untuk wisatawan sampai saat ini masih mengacu pada PP Nomor 12 Tahun 2014. Dimana, khusus untuk wisatawan dari Indonesia, estimasi tiket masuk dikenakan sekitar Rp 200 ribuan, sudah termasuk seluruh paket yang ditawarkan. Sementara, bagi wisatawan asing, tiket masuk dikenakan Rp 500 ribuan.

“Tiket masuknya tidak berubah, wisatawan kita Rp 200 ribuan, kalau asing Rp 500 ribuan, ” tutupnya.

Penulis : Oen
Editor : M Jay

Don`t copy text!