MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur mencatat, pada November 2021, Kaltim mengalami inflasi yang rendah dan terkendali di bawah inflasi nasional.

Kondisi ini terlihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim yang mengalami inflasi lebih tinggi di bulan November 2021 sebesar 0,17 persen (mtm), dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya naik sebesar 0,04 persen (mtm).

“Secara tahunan, inflasi IHK di bulan November 2021 tercatat sebesar 1,71 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, yang berada pada 1,91 persen (yoy). Sedangkan nasional berada pada 1,75 persen (yoy),” ucap Kepala Perwakilan BI Kaltim Tutuk SH Cahyono melalui rilis resmi yang dikeluarkan Kantor BI Perwakilan Kaltim, Rabu (1/12/2021).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, lanjut Tutuk, penyumbang terbesar inflasi di bulan November 2021 berasal dari adanya kenaikan harga pada kelompok transportasi, setelah sebelumnya mengalami deflasi cukup dalam.

Menurutnya, hal ini terjadi karena semakin dilonggarkannya persyaratan perjalanan setelah penyebaran COVID-19 melandai, sehingga menjadi faktor pendorong inflasi pada kelompok transportasi.

Berdasarkan catatan BI Perwakilan Kaltim, pada kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 1,30 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,12 persen (mtm).

“Kelompok transportasi merupakan kelompok dengan tingkat inflasi tertinggi bulan ini. Secara spesifik, tarif angkutan udara merupakan komoditas utama penyumbang inflasi Kaltim bulan ini, dengan kenaikan harga sebesar 10,76 persen (mtm) dan andil 0,15 persen (mtm) terhadap pembentukan inflasi Kaltim,” terang Tutuk.

Dikatakan, syarat perjalanan untuk moda transportasi udara yang semakin longgar dibandingkan bulan sebelumnya, mendorong masyarakat kembali melakukan aktivitas perjalanan. Baik perjalanan dinas, maupun pribadi.

Sementara, lanjut Tutuk, pada kelompok makanan, minuman dan tembakau masih mengalami deflasi sebesar 0,12 persen (mtm). Namun kondisi ini terjadi tidak seperti sedalam deflasi di bulan sebelumnya, yang mencapai 0,30 persen (mtm).

Dia merincikan, komoditas utama penyumbang deflasi dari kelompok tersebut adalah kangkung dan ikan layang atau benggol. Kedua komoditas ini mempunyai andil deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) dan 0,04 persen (mtm), dengan tingkat penurunan harga mencapai 20,71 persen (mtm) dan 4,40 persen (mtm).

“Deflasi pada komoditas pangan ini disebabkan karena melimpahnya pasokan di tengah permintaan yang masih terpantau relatif stabil,” katanya.

Untuk itu, Tutuk berharap, koordinasi dalam kerangka Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Kaltim terus dilakukan, guna menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga.

“November 2021 telah dilakukan rapat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok di masa pandemi. Termasuk menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) Natal 2021 dan tahun baru 2022. Selian itu, dilaksanakan workshop penguatan jaringan distribusi pangan serta Rakor dan sinkronisasi cadangan pangan pemerintah daerah. Tentunya ini juga harus diperkuat rencana kerjasama antar daerah untuk pengendalian inflasi di Kaltim. Baik melalui penandatanganan KAD komoditas sapi potong dengan NTT maupun rapat koordinasi rencana KAD dengan Sulawesi Barat,” tutupnya.

Penulis : Oen
Editor   : M Jay

Don`t copy text!