Inflasi Samarinda Dijaga. Pemkot Perkuat Stok Pangan, Batasi Pembelian di Pasar

Mediaborneo.net, Samarinda –   Pemerintah Kota Samarinda kian serius mengendalikan inflasi Samarinda dengan memastikan ketersediaan stok pangan tetap aman, serta memperketat pengawasan distribusi di pasar tradisional.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus meredam potensi gejolak harga di tengah masyarakat.

Upaya tersebut dipimpin langsung Asisten II Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, dalam rapat internal bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga pengendalian inflasi daerah agar tetap stabil.

“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak harus bergerak bersama, terutama dalam memastikan distribusi berjalan lancar,” ujar Marnabas.

Dalam arahannya, Marnabas menekankan pentingnya penguatan stok komoditas pangan melalui optimalisasi “Toko Inflasi” yang tersebar di sejumlah pasar utama, seperti Pasar Dama, Pasar Merdeka, Pasar Baqa, dan Pasar Segiri.

Program ini dinilai efektif menjaga ketersediaan bahan pokok Samarinda agar tetap stabil dan mudah diakses masyarakat.

“Kita harus pastikan stok pangan tersedia dan mudah dijangkau masyarakat. Toko Inflasi ini menjadi salah satu instrumen penting untuk itu,” katanya.

Langkah preventif ini juga bertujuan mengantisipasi potensi kelangkaan yang dapat memicu kepanikan publik. Dengan stok yang terjaga, pemerintah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Kita tidak ingin ada kepanikan. Selama stok terjaga, masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) RI, inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,41 persen secara bulanan (month-to-month). Meski tren inflasi pasca-Lebaran cenderung menurun dalam empat tahun terakhir, sejumlah komoditas seperti tarif listrik, emas perhiasan, cabai merah, dan minyak goreng masih menjadi penyumbang utama kenaikan harga.

Menanggapi kondisi tersebut, Marnabas menyebut pemerintah akan terus memantau pergerakan harga dan memastikan intervensi dilakukan tepat waktu.

“Kita pantau terus perkembangan di lapangan. Kalau ada gejolak, kita harus cepat turun dengan langkah konkret,” ujarnya.

Sementara itu, pantauan Dinas Perdagangan Kota Samarinda pada minggu ketiga April 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga pada beras, minyak goreng, daging, tomat, dan ikan tongkol. Di sisi lain, harga bawang merah dan cabai mulai berangsur turun, memberi sinyal positif bagi stabilitas pasar tradisional.

Marnabas juga mengungkap adanya indikasi pengalihan distribusi stok pangan yang seharusnya masuk ke pasar. Hal ini dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan di lapangan.

“Distribusi harus kita jaga betul. Jangan sampai ada stok yang seharusnya ke pasar, tapi justru dialihkan ke tempat lain,” tegasnya.

Sebagai solusi, Pemkot Samarinda menerapkan pembatasan pembelian maksimal dua item per orang. Kebijakan ini diyakini mampu mencegah aksi borong serta memastikan distribusi kebutuhan pokok lebih merata di tengah masyarakat.

“Pembatasan ini bukan untuk membatasi masyarakat, tapi untuk memastikan semua bisa kebagian,” kata Marnabas.

Tak hanya itu, pemerintah juga segera menjadwalkan Operasi Pasar Murah (OPM) untuk menekan potensi lonjakan harga. Langkah ini menjadi bentuk intervensi langsung dalam menjaga harga bahan pokok tetap terkendali di pasar tradisional.

“Inflasi bisa datang secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Karena itu, pertahanan stok kita harus kuat,” pungkasnya Marnabas. (Ret/M Jay)

Share
Exit mobile version