Karhutla Palaran Meluas, Warga Diminta Waspada

Mediaborneo.net, Samarinda –   Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di wilayah Kecamatan Palaran, Kota Samarinda. Kebakaran lahan di wilayah Kelurahan Bantuas dilaporkan terjadi pada Kamis malam (17/9/2026).

Kondisi ini menjadi perhatian karena Palaran merupakan wilayah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi di Kota Samarinda sepanjang periode Januari hingga September 2026.

Camat Palaran Muhammad Dahlan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api.

Dahlan menekankan, salah satu kebiasaan yang perlu dihentikan adalah membakar sampah sembarangan.

“Masyarakat diimbau tidak membakar sampah, baik di sekitar rumah maupun di tempat-tempat lain yang bisa menyebabkan kebakaran,” ujar Dahlan.

Menurut Dahlan, pembakaran sampah yang dilakukan di sekitar rumah maupun lokasi lain tetap memiliki risiko apabila kondisi lingkungan di sekitarnya mudah terbakar.

Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dan kebun.

Dahlan meminta masyarakat tidak menganggap remeh api yang terlihat kecil. Sebab, sumber api tersebut dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Yang dianggap mungkin tidak akan menimbulkan api besar, ternyata menimbulkan api besar,” kata Dahlan.

Karena itu, dia mengajak masyarakat lebih berhati-hati terhadap setiap aktivitas yang menggunakan api, terutama ketika dilakukan di dekat lahan atau vegetasi yang kering.

Dahlan juga menyoroti kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan. Menurutnya, puntung rokok yang masih memiliki bara berpotensi menjadi pemicu kebakaran apabila dibuang di area yang mudah terbakar.

Dia meminta masyarakat memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum membuangnya dan tidak melemparkannya ke lahan maupun semak-semak.

“Tidak membuang puntung rokok sembarangan,” imbau Dahlan.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah tingginya angka karhutla di Kecamatan Palaran.

Berdasarkan data kumulatif Pusdalops-PB BPBD Kota Samarinda periode Januari hingga 11 September 2026, tercatat 165 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas area terbakar mencapai 344,43 hektare.

Kecamatan Palaran mencatat 55 kejadian, dengan luas area terbakar mencapai 1.371.900 meter persegi atau sekitar 137,19 hektare.

Angka tersebut menempatkan Palaran sebagai kecamatan dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi di Kota Samarinda.

Dahlan berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bersama. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang berpotensi menambah titik api.

Menurutnya, pencegahan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan menghindari aktivitas yang dapat menjadi awal munculnya api.

“Tidak membakar sampah yang baik di sekitar rumah maupun di tempat-tempat lain yang bisa menyebabkan kebakaran,” kembali ditegaskan Dahlan.

Dia mengingatkan masyarakat agar tidak berpikir bahwa api kecil pasti mudah dikendalikan.

Sebab, ketika api mengenai lahan yang kering, kobaran dapat membesar dan menyebar dengan cepat.

Karhutla juga tidak hanya menimbulkan kerusakan pada lahan. Asap yang dihasilkan dapat memengaruhi kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Di Samarinda, dampak kabut asap bahkan berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota Samarinda menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada 17–19 September 2026 mulai jenjang PAUD hingga SMP menyusul kondisi kualitas udara yang dinilai tidak sehat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran lahan dapat menimbulkan dampak yang lebih luas dari lokasi terjadinya kebakaran.

Asap dapat terbawa angin dan masuk ke kawasan permukiman, sehingga masyarakat yang tidak berada di sekitar titik kebakaran pun dapat merasakan dampaknya.

Dahlan karena itu kembali meminta masyarakat Palaran meningkatkan kewaspadaan.

Dia mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun kebun, meski tujuannya untuk membersihkan area.

Menurut Dahlan, kebiasaan membakar yang dilakukan tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

Kebakaran lahan di Bantuas pada Kamis malam kembali menjadi pengingat bahwa potensi karhutla masih harus diwaspadai.

Dahlan meminta masyarakat segera meninggalkan kebiasaan yang dapat menjadi sumber api, termasuk membakar sampah, membakar lahan dan kebun, serta membuang puntung rokok sembarangan.

“Jangan membakar sampah sembarangan,” tegas Dahlan.

Dia berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal masing-masing.

Menurutnya, mencegah munculnya api sejak awal jauh lebih penting agar kebakaran tidak berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih luas.

Dahlan juga mengajak warga untuk saling mengingatkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Baik di sekitar rumah maupun di tempat-tempat lain yang bisa menyebabkan kebakaran,” pungkasnya. (Han/M Jay)

Share