Mediaborneo.net, Samarinda – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur mulai mematangkan langkah menghadapi rangkaian agenda besar Persyarikatan pada 2027.
Melalui Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Kalimantan Timur Tahun 2026 yang digelar secara daring, Sabtu (11/7/2026), seluruh peserta sepakat memperkuat gerakan penggalangan dana sebagai fondasi menuju organisasi yang semakin mandiri.
Keputusan tersebut menjadi salah satu poin strategis hasil Musypimwil. Selain membahas penguatan kepemimpinan organisasi, forum juga menegaskan pentingnya membangun budaya gotong royong dalam menopang seluruh kegiatan Persyarikatan.
Menghadapi Muktamar Muhammadiyah, Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang hingga Musyawarah Ranting pada 2027, PWM Kalimantan Timur menilai kesiapan pembiayaan harus dirancang sejak dini agar seluruh agenda berjalan lancar.
“Keberhasilan seluruh agenda Persyarikatan bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi merupakan amanah bersama seluruh warga Muhammadiyah,” ungkap pemaparan yang disampaikan dalam forum Musypimwil.
Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi modal utama untuk mewujudkan organisasi yang kuat dan berdaya.
“Karena itu diperlukan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh unsur Persyarikatan agar kebutuhan pembiayaan dapat dipenuhi secara mandiri, tertata, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pembahasan mengenai strategi penggalangan dana berlangsung dinamis. Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Organisasi Otonom, hingga unsur pembantu pimpinan menyampaikan berbagai pandangan dan usulan. Meski muncul beragam masukan, seluruh peserta tetap mengedepankan suasana musyawarah dan kekeluargaan.
“Dinamika dalam musyawarah merupakan bagian dari ikhtiar mencari solusi terbaik. Yang terpenting adalah semangat persatuan tetap menjadi pijakan bersama,” kata salah seorang peserta forum.
Hasil pembahasan kemudian melahirkan kesepakatan bahwa konsolidasi penggalangan dana akan dijalankan sebagai gerakan bersama di seluruh Kalimantan Timur. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung sukses penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah, Musyawarah Wilayah, hingga Musyawarah Daerah, Cabang, dan Ranting.
“Gerakan ini bukan sekadar mengumpulkan dana, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa setiap warga memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan Persyarikatan,” tegasnya.
Forum juga menekankan bahwa penggalangan dana harus menjadi sarana memperkuat nilai ta’awun atau saling tolong-menolong yang selama ini menjadi karakter Muhammadiyah.
“Semangat ta’awun harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kemandirian organisasi lahir dari kepedulian dan partisipasi seluruh warga Persyarikatan,” jelasnya.
Selain itu, peserta Musypimwil mengingatkan agar setiap dana yang berhasil dihimpun dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel sesuai prinsip tata kelola keuangan Muhammadiyah.
“Kepercayaan adalah modal terbesar organisasi. Karena itu setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan secara terbuka sehingga budaya filantropi Muhammadiyah terus tumbuh dan semakin kuat,” pungkasnya. (M Jay)
