DPRD Samarinda Dorong Small Bus Jangkau Permukiman

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim.

Mediaborneo.net, Samarinda –   Transportasi massal di Kota Samarinda diharapkan tidak hanya melayani jalan-jalan utama, tetapi juga mampu menjangkau kawasan permukiman dengan akses jalan terbatas. Karena itu, pemilihan armada menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan menjelang rencana pengoperasian layanan Buy The Service (BTS) pada 2027.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, mengingatkan agar pemerintah tidak terpaku pada penggunaan bus berukuran besar untuk seluruh rute. Menurutnya, kondisi jalan di Samarinda yang beragam membutuhkan jenis kendaraan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah pelayanan.

Dia menilai, penggunaan bus besar pada ruas jalan yang sempit berpotensi menghambat kelancaran lalu lintas. Padahal, transportasi massal semestinya menjadi alternatif mobilitas yang memudahkan masyarakat, bukan justru menambah persoalan di jalan raya.

“Armada busnya tidak harus besar semua. Harus disesuaikan dengan kondisi jalan kita. Ada jalan yang sempit, ada yang lebar. Jangan sampai busnya malah bikin macet,” ujar Abdul Rohim.

Menurutnya, kendaraan berukuran sedang atau small bus dapat menjadi alternatif untuk menjangkau kawasan yang tidak memungkinkan dilalui bus berukuran besar. Pilihan armada yang lebih fleksibel dinilai penting agar cakupan pelayanan dapat disesuaikan dengan kondisi jalan di setiap wilayah.

Dalam pengembangan transportasi perkotaan, kapasitas kendaraan bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Kemampuan armada melewati jalur pelayanan dan menjangkau calon penumpang juga menjadi pertimbangan penting.

Rohim menyoroti perbedaan kondisi jalan di Samarinda yang perlu menjadi dasar dalam menentukan jenis kendaraan. Ruas jalan yang lebar dapat dipertimbangkan untuk layanan bus berukuran besar, sedangkan jalur dengan akses terbatas membutuhkan pilihan kendaraan yang lebih sesuai.

“Harus disesuaikan dengan kondisi jalan kita,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa bus berukuran besar tidak selalu menjadi pilihan tepat untuk seluruh kawasan. Menurutnya, kondisi jalan di setiap wilayah perlu diperhatikan sebelum pemerintah menentukan armada yang akan dioperasikan.

“Ada jalan yang sempit, ada yang lebar,” ujarnya.

Karena itu, perencanaan armada BTS perlu mempertimbangkan karakteristik jalur yang akan dilalui. Penyesuaian tersebut diharapkan dapat membantu memperluas jangkauan layanan sekaligus menjaga kelancaran lalu lintas.

“Jangan sampai busnya malah bikin macet,” kata Rohim.

Rencana pengoperasian BTA pada 2027 menjadi momentum bagi pemerintah untuk merancang layanan angkutan umum yang sesuai dengan kebutuhan Kota Samarinda. Perencanaan tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan kendaraan, tetapi juga harus memperhitungkan rute yang akan dilayani dan kondisi infrastruktur di sepanjang jalur tersebut.

Penggunaan armada dengan ukuran yang beragam berpotensi memberikan keleluasaan dalam menentukan rute. Dengan begitu, layanan transportasi massal diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada jalan-jalan utama, tetapi juga dapat menjangkau kawasan yang membutuhkan akses angkutan umum.

Selain jangkauan, kenyamanan masyarakat juga perlu menjadi perhatian. Pemilihan kendaraan harus mempertimbangkan kebutuhan penumpang sekaligus kemampuan armada beroperasi sesuai karakteristik jalan.

Pendekatan tersebut penting agar transportasi massal yang direncanakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Kendaraan yang sesuai dengan kondisi jalan diharapkan dapat mendukung kelancaran operasional dan memudahkan mobilitas warga.

Abdul Rohim kembali menegaskan bahwa ukuran bus tidak seharusnya disamaratakan untuk seluruh wilayah pelayanan. Penyesuaian armada menjadi bagian penting agar rencana transportasi massal dapat berjalan sesuai kondisi kota.

“Armada busnya tidak harus besar semua,” katanya.

Ia mengingatkan kembali bahwa kondisi jalan harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenis kendaraan yang digunakan.

“Harus disesuaikan dengan kondisi jalan kita. Ada jalan yang sempit, ada yang lebar,” tegas Rohim.

Menurutnya, jangan sampai pemilihan armada yang tidak sesuai justru menghambat kelancaran lalu lintas.

“Jangan sampai busnya malah bikin macet,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)

Share