Mediaborneo.net, Samarinda – Pengalihan pembelajaran ke rumah akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) berpotensi menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Keterbatasan akses internet dan perangkat belajar dapat membuat sebagian siswa kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengingatkan agar kebijakan pembelajaran selama bencana tidak memperlebar kesenjangan pendidikan, terutama bagi anak-anak yang tinggal di daerah terpencil dan berasal dari keluarga kurang mampu.
Menurutnya, pembelajaran jarak jauh tidak harus selalu mengandalkan jaringan internet dan perangkat digital. Sekolah perlu memiliki keleluasaan untuk menerapkan metode alternatif sesuai kondisi peserta didik.
“Pembelajaran jarak jauh tidak harus selalu dilakukan secara daring. Kita memahami bahwa tidak semua keluarga memiliki akses internet yang memadai atau perangkat belajar yang cukup,” ujar Hetifah.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam penyelenggaraan pendidikan ketika kondisi darurat mengharuskan siswa belajar dari rumah.
Selama karhutla mengganggu kualitas udara dan aktivitas sekolah, pembelajaran jarak jauh dapat menjadi pilihan untuk melindungi kesehatan anak. Namun, pelaksanaannya perlu memperhatikan kemampuan keluarga dalam menyediakan fasilitas belajar.
Bagi keluarga yang tidak memiliki akses internet stabil atau perangkat elektronik yang memadai, pembelajaran daring berpotensi menjadi hambatan. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat membuat siswa kesulitan mengikuti materi dan menyelesaikan tugas sekolah.
Hetifah karena itu mendorong sekolah untuk memanfaatkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel. Modul cetak, penugasan sederhana, serta komunikasi berkala antara guru dan orang tua dapat menjadi alternatif agar kegiatan belajar tetap berlangsung.
“Karena itu, sekolah perlu diberikan keleluasaan menggunakan metode alternatif, seperti modul cetak, penugasan sederhana, dan komunikasi berkala antara guru dengan orang tua,” katanya.
Menurut Hetifah, pendekatan tersebut memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi keluarga tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pembelajaran daring.
Guru juga perlu mempertimbangkan kemampuan siswa dalam mengakses materi dan menyelesaikan tugas. Komunikasi dengan orang tua dapat membantu sekolah mengetahui kendala yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, sekaligus menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada siswa di daerah terpencil dan keluarga kurang mampu. Mereka berisiko menghadapi hambatan berlapis, mulai dari dampak bencana terhadap kegiatan sekolah hingga keterbatasan fasilitas belajar di rumah.
“Jangan sampai anak-anak yang tinggal di daerah terpencil atau berasal dari keluarga kurang mampu semakin tertinggal akibat kondisi ini,” tegas Hetifah.
Ia berharap dinas pendidikan dan sekolah dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi setempat. Penyelenggara madrasah dan pesantren juga perlu melakukan penyesuaian melalui koordinasi dengan Kementerian Agama.
Upaya tersebut penting agar kebijakan darurat tidak hanya berorientasi pada pemindahan tempat belajar, tetapi juga memastikan setiap siswa tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh materi dan pendampingan pendidikan.
Hetifah menegaskan bahwa penyesuaian pembelajaran harus tetap memperhatikan keselamatan anak. Ketika kualitas udara membahayakan kesehatan, perlindungan terhadap peserta didik harus diutamakan, sembari menyiapkan metode belajar yang dapat dijalankan sesuai kemampuan masing-masing keluarga.
“Prinsipnya, kesehatan anak harus dilindungi, tetapi hak mereka untuk tetap memperoleh pendidikan juga tidak boleh terabaikan,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan yang adaptif selama bencana.
Dengan pilihan metode yang beragam dan komunikasi yang baik antara sekolah serta keluarga, hambatan belajar diharapkan dapat diminimalkan tanpa mengabaikan keselamatan anak. (Ret/M Jay)












