Inflasi Juli 2026 Terkendali, BI Optimistis Stabil

Mediaborneo.net, Jakarta –   Laju inflasi Indonesia pada Juli 2026 tetap berada dalam jalur yang terkendali. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa stabilitas harga masih terjaga berkat kombinasi kebijakan moneter yang konsisten serta kolaborasi erat antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dalam mengendalikan tekanan harga di berbagai daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm). Meski terjadi deflasi, secara tahunan inflasi tercatat 2,88 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan posisi Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan efektivitas kebijakan yang dijalankan otoritas moneter bersama pemerintah.

“Inflasi Indeks Harga Konsumen pada Juli 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, stabilnya inflasi tidak terlepas dari konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia, sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

“Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 maupun 2027,” ujarnya.

Dari sisi inflasi inti, tekanan harga juga masih relatif rendah. Pada Juli 2026, inflasi inti tercatat 0,14 persen (mtm), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,23 persen (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi inti bertahan di level 2,76 persen (yoy).

Ramdan menjelaskan, stabilnya inflasi inti dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi masyarakat yang tetap terjaga meskipun harga sejumlah komoditas global masih berada pada level tinggi.

“Perkembangan inflasi inti dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang tetap terjaga di tengah masih tingginya harga komoditas global,” jelasnya.

Dia menambahkan, beberapa komoditas yang memberi kontribusi terhadap inflasi inti antara lain biaya sekolah dasar, biaya taman kanak-kanak, biaya bimbingan belajar, sepeda motor, pelumas atau oli mesin, serta telepon seluler.

Sementara itu, kelompok volatile food atau komponen pangan bergejolak justru mencatatkan deflasi 1,68 persen (mtm). Kondisi ini berbalik dari bulan sebelumnya yang masih mengalami inflasi 0,14 persen (mtm).

Ramdan mengatakan penurunan harga terutama dipicu meningkatnya pasokan komoditas hortikultura dari sejumlah daerah sentra produksi.

“Deflasi kelompok volatile food terutama disumbang oleh penurunan harga bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah seiring meningkatnya pasokan,” ungkapnya.

Secara tahunan, inflasi kelompok pangan bergejolak turun menjadi 2,52 persen (yoy) dari sebelumnya 5,58 persen (yoy).

Bank Indonesia optimistis tren tersebut dapat dipertahankan melalui koordinasi bersama pemerintah.

“Inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali dengan dukungan sinergi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS),” ujar Ramdan.

Berbeda dengan kelompok pangan, komponen administered prices atau harga yang diatur pemerintah masih mengalami inflasi 0,25 persen (mtm). Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,41 persen (mtm).

Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026 dan berlanjut hingga Juli 2026.

Secara tahunan, inflasi administered prices tercatat 3,58 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2026 yang berada di level 3,42 persen (yoy).

Menutup keterangannya, Ramdan menegaskan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah agar inflasi tetap berada dalam sasaran dan mampu menjaga daya beli masyarakat.

Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan melalui konsistensi kebijakan moneter dan sinergi pengendalian inflasi bersama pemerintah,” pungkasnya. (Oen/M Jay)

Share