MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Langkanya keberadaan minyak goreng di pasaran sejak sebulan terakhir, membawa dampak besar bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki usaha makanan.

Untuk itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan satu harga untuk harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng di pasaran.

Namun demikian, walaupun harga minyak goreng telah ditetapkan, tetapi keberadaannya masih langka. Kuat dugaan, terjadinya kejadian itu karena ada pihak-pihak yang sengaja menimbun minyak goreng. Akibatnya, kebijakan tidak sampai kepada masyarakat.

“Serba salah, karena sekarang kebijakan minyak murah dikhususkan biar langsung sampai ke masyarakat, jangan sampai ada harga berbeda-beda,” ujar anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda Novi Marinda Putri, saat dikonfirmasi Rabu (2/2/2022).

“Kemudian dengan alasan distributor yang ingin mengambil keuntungan dengan keadaan ini, tentu akan merugikan masyarakat,” sambungnya.

Kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, dirinya meminta agar mewaspadai dan mengambil tindakan tegas, bagi oknum-oknum yang sengaja melakukan penimbunan minyak goreng.

“Ini yang harus diwaspadai oleh pemerintah kota. Kita sebagai anggota DPR melihat, di lapangan masih banyak oknum-oknum yang menjadikan kebijakan pemerintah ini dijadikan keuntungan bagi pribadi mereka. Ini yang harus kita perangi, jangan sampai kebijakan pemerintah tidak sampai ke masyarakat,” katanya.

Dikatakannya, DPRD Samarinda sendiri sudah menyampaikan kepada Pemkot Samarinda untuk aktif melakukan monitoring ketersediaan minyak goreng di lapangan, termasuk distribusi yang merata di setiap wilayah.

“Kita sudah bicara karena ini kebijakan pusat, maka Pemkot bersama jajarannya untuk terus melakukan monitoring di lapangan terkait perkembangan minyak goreng ini. Jangan sampai ada pengepul ilegal dan masyarakat yang dirugikan,” ujarnya.

Sementara, kepada masyarakat Samarinda, Novi meminta agar tidak terlalu panik dengan keberadaan dan stok minyak goreng. Karena kata dia, pemerintah telah menjamin ketersediaan minyak goreng masih mencukupi hingga beberapa bulan ke depan.

“Warga terkadang panik berlebihan, jadi ketika ada harga turun, mereka takut akan naik lagi sehingga membeli dalam jumlah banyak. Masyarakat harus memahami bahwa jika stok ini dipakai dengan sewajarnya, mungkin kita tidak pernah alami kelangkaan lagi,” pungkasnya. (Advetorial)

Penulis : Koko
Editor : M Jay

Don`t copy text!