MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda Anhar menilai, wacana penambahan transportasi angkutan kota (angkot) di Samarinda yang digagas oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda, tidak tepat.

Pasalnya, gagasan tersebut disampaikan oleh Dishub, untuk mengatasi persoalan kemacetan yang terjadi di Samarinda.

“Penambahan transportasi angkot di Samarinda ini bukan solusi mengatasi masalah macet, karena itu harus dilihat secara komprehensif. Apakah betul kemacetan di Samarinda ini terjadi karena kepadatan lalulintas? Tidak ada aspek lain, seperti banjir dan sebagainya,” katanya, saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Menurut Politisi dari PDIP ini, penyebab kemacetan di Samarinda, tidak hanya karena banyaknya jumlah kendaraan, tetapi juga banjir yang disebabkan oleh hujan maupun luapan air sungai, termasuk aktivitas pasar di pinggir jalan dan pengerjaan proyek jalan, turut andil menyumbang kemacetan lalulintas.

“Sekarang, tidak ada hujan pun, tapi sungai pasang bisa banjir, apalagi kalau hujan. Kemudian ada pasar malam, macet juga. Ada galian pipa, macet juga. Jadi jangan berpikir lompat kodok, lompatan yang sedikit. Kita justru harus melompat jauh,” katanya.

Untuk itu, Anhar meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, yang dalam hal ini adalah Dishub Samarinda untuk membaca dan mengetahui blue print Samarinda. Sehingga penanganan kemacetan benar-benar bisa dilaksanakan dengan benar.

“Kita harus lihat blue print Kota Samarinda tentang penanganan masalah lingkungan, masalah kemacetan dan infrastruktur pendukung lain. Itu harus dilihat secara komprehensif, apakah kalau ditambah angkot akan mengatasi masalah kemacetan? itu kurang tepat,” ujarnya.

“Kita belum tahu menumpuk dimana kemacetan ini, harus bangun terminal lagi. Jadi saya pikir, jangan kita berpikir sempit. Angkot ini, mengenai batasan-batasan bagaimana. Apakah nanti akan ada masalah dengan trayek, bisa jadi,” sambungnya.

Dikatakannya lagi, di zaman sekarang, kecanggihan teknologi digitalisasi semakin tumbuh dengan pesat. Kebutuhan transportasi pun semakin mudah didapat masyarakat, hanya dengan menggunakan aplikasi transportasi berbayar, yang lebih cepat, murah dan langsung sampai tujuan.

“Semua itu sudah ada segmen masing-masing. Kalau masalahnya masyarakat tidak terlayani kebutuhan angkot, itu wajar. Artinya ada kekurangan transportasi. Sekarang sudah ada segmen, kecanggihan teknologi digitalisasi sekarang sudah ada aplikasi transportasi,” pungkasnya. (Advetorial)

Penulis : Koko
Editor : M Jay

Don`t copy text!