MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Heboh kabar mengenai adanya 9.000 lebih warga Samarinda masuk dalam kategori miskin ekstrim, mendapat tanggapan dari Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Samarinda Deni Hakim Anwar.

Politisi dari partai Gerindra ini menduga, kemiskinan yang terjadi di Samarinda terjadi karena imbas dari pandemi COVID-19 yang selama dua tahun lalu melanda.

“Kalau kita bicara sosial dari kemiskinan di Samarinda ini, pastinya tidak terlepas dari efek pandemi yang kemarin kita hadapi, dimana terjadi peningkatan orang miskin di Samarinda,” ujarnya.

Dikatakannya, dampak pandemi COVID-19 bahkan “memukul” perekonomian daerah, Indonesia, bahkan dunia. Banyak perusahaan yang terpaksa “gulung tikar” hingga menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan kerja besar-besaran, yang akhirnya warga tak lagi bisa mendapatkan penghasilan.

“Selain itu faktor pekerjaan yang tidak memadai, tingkat pengangguran tinggi. Ini yang juga menjadi salah satu sebab dari meningkatnya orang miskin di Samarinda,” katanya.

Menurut Deni, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah berupaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan dari tahun ke tahun. Namun tentunya, kata dia, diperlukan waktu yang tidak cepat.

“Angka kemiskinan meningkat. Misal dari 9 persen, naik menjadi 10 persen dari tahun sebelumnya. Pak Wali Kota ingin angka kemiskinan turun dan bisa mencapai 6 sampai 5 persen dari sebelumnya, upaya juga sudah dilakukan dengan berbagai program. Tentunya ini kita terus dorong dan suport, ” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Isfihani membeberkan, pihaknya menerima data dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Menko-PMK), dari 44.524 warga miskin di Samarinda, diantaranya 9.032 warga yang masuk dalam kategori miskin ekstrim.

“Itu data kami dari Menko-PMK, pak Muhadjir Effendy. Data itu sudah dikolaborasi teman-teman di pusat dengan Menteri Sosial dan Capil. Walaupun ada 265 warga yang datanya belum padu padan, karena lemahnya data di Capil, lantaran server Capil ada di pusat, ” ungkapnya.

Dia menyebut, dari 9.032 warga Samarinda yang masuk kategori miskin ekstrim mayoritas berada di Kecamatan Samarinda Utara.

“Kantong kemiskinan ada di Samarinda Utara. Saat ini kita sedang lakukan verfal (verifikasi falidasi), insyaallah kita selesaikan di tahun 2024,” tutupnya. (Adv/Koko)

Don`t copy text!