MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Puluhan mahasiswa menggelar aksi demontrasi di depan Gedung DPRD Kota Samarinda terkait penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Aksi mahasiswa mendapat penjagaan ketat oleh pihak kepolisian. Sementara itu, beberapa Anggota DPRD Samarinda mengajak dan menunggu mahasiswa untuk berdialog di dalam gedung.

Namun rupanya, ajakan berdialog tersebut ditolak oleh pihak mahasiswa dengan berbagai alasan. Mereka justru memilih menggelar aksi di depan gedung.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda Eko Elyasmoko mengatakan, dengan sikap mahasiswa yang enggan berdialog, tentunya Anggota Dewan tidak akan mengetahui apa saja yang menjadi tuntutan mereka.

“Kalau kita lihat (aksi demonstrasi, red) cuma dapat capek saja. Untuk aspirasi ini niatnya apa? Kalau niatnya membuat fakta integritas, di dalam ruangan kita rekomendasi ke provinsi dan provinsi biasanya dilanjutkan lagi ke pusat,” ujarnya.

“Jadi kalau bicara seperti ini, maunya hanya teriak-teriak saja, kan hanya di dengar di jalanan saja,” sambung Eko.

“Jadi posisinya memang kalau mereka ingin bicara ya kita tunggu, jangan sampai kegiatan ini sia-sia, ” katanya lagi.

Menurut Eko, terkait kenaikan harga BBM ini memang tidak semua disetujui oleh fraksi-fraksi di DPRD, namun ada juga fraksi yang mendukung kebijakan tersebut.

“Kita ada wakilnya di sini. Di sini jelas ada yang mendukung ada fraksi yang tidak mendukung. Jadi sebaiknya adik-adik mahasiswa ini masuk untuk menyampaikan aspirasinya, ” katanya.

Eko melanjutkan, sebagai wakil rakyat, DPRD akan siap mendengarkan aspirasi seluruh masyarakat. Tetapi dia mengingatkan, pemegang keputusan tetap ada pada pemerintah.

“Kami ini wakil mereka, kebutuhan mereka dan penyampaian mereka melalui Ormas atau apapun, di sini kita siap. Tapi juga perlu diingat, Legislatif ini bukan penentu, bukan eksekutor. Tapi Legislatif ini akan menyampaikan aspirasi masyarakat ke pihak pemerintah, ” tandasnya. (Adv/Koko/Oen)

Don`t copy text!