MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Angkasa Jaya Djoerani mengatakan, penanganan banjir di Kota Samarinda menjadi salah satu fokus program yang dilakukan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dari pemerintahan sebelumnya hingga saat ini. Namun belum tertangani sepenuhnya, justru saat ini titik banjir semakin bertambah.

Politisi dari partai PDIP ini terus mendorong Pemkot Samarinda untuk terus fokus pada program-program penanganan banjir, karena setiap tahunnya alokasi anggaran dengan jumlah besar untuk penanganan banjir selalu diketok.

“Beberapa tahun ini Samarinda menang ada titik banjir yang makin bertambah, tapi tugas pemerintah untuk menangani itu, ” ujarnya.

“Penanganan banjir ini juga sudah dilakukan dari pemerintahan sebelumnya dan pemerintahan sekarang. Memang kalau sekarang kita belum bisa menangani dengan tuntas banjir ini,” lanjutnya.

Menurut Angkasa, penyebab banjir enggan pergi dari Kota Samarinda karena beberapa pengerjaan drainase satu dengan drainase lainnya tidak terkoneksi dengan baik. Sehingga yang terjadi justru penanganan tidak maksimal.

“Penyebabnya, ada beberapa drainase ynag dibangun, tapi belum terkoneksi dengan yang lain, karena itu semua perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit, ” katanya.

Dia menyebut, sejak tahun 2021 hingga 2022 ini, proyek penanganan banjir, termasuk normalisasi sungai masih dilanjutkan, seperti Sungai Karang Mumus hingga Sungai Mahakam.

Dirinya pun menaruh harapan besar, di saat berakhirnya pemerintahan Walikota Andi Harun penanganan banjir dapat mencapai 60 persen.

“Kita berharap bahwa di akhir pemerintahan pak Andi Harun sampai 2024 itu tuntas menangani banjir, minimal 60 persen. Kalau 100 persen agak susah, karena kita butuh biaya dan perencanaan segala macam, ” tandasnya. (Adv/Koko/Oen)

Don`t copy text!