MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Sejak sebulan terakhir harga minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah melonjak tajam di Kalimantan Timur (Kaltim). Semakin dekatnya perayaan Natal dan tahun baru dituding sebagai penyebabnya, lantaran tingginya jumlah permintaan. Benarkah demikian?

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Provinsi Kaltim HM Yadi Robianur membenarkan terjadinya kenaikan harga untuk minyak goreng.

Dikatakannya, kenaikan tersebut terjadi sejak beberapa minggu terakhir. Namun kondisi ini tidak hanya terjadi di Kaltim saja, melainkan di seluruh Indonesia. Penyebabnya kata dia, adanya kenaikan harga CPO lebih dari 130 persen di pasar global.

“Memang harga minyak goreng sudah naik dari minggu-minggu kemarin, itu terjadi bukan hanya di Kaltim tapi di seluruh Indonesia. Minyak goreng memang ada masalah, karena CPO ada kenaikan 130 persen lebih. Tapi di sisi lain, permintaan tetap tapi persediaan jadi berkurang,” ucap Robianur pada acara di salah satu stasiun radio di Samarinda.

Dikatakannya, pihaknya bersama Kementrian Perdagangan telah melakukan kajian atas kenaikan harga minyak goreng. Untuk mengatasi masalah tersebut, menurutnya tidak dapat menggunakan cara-cara konvensional.

“Tidak bisa dengan cara konvensional, misalnya seperti kita operasi pasar. Makanya nanti hasil kajian kita lihat, karena harus menyelesaikan masalah. Tapi tetap, kenaikan itu terjadi. Dari survei yang kami lakukan itu untuk memastikan,” katanya.

Dengan kenaikan harga minyak makan, tak dipungkiri banyak dari pedagang yang mengandalkan goreng-gorengan ikut terpukul.

“Yang kami agak berat ini melihat kawan-kawan yang pelaku usaha, yang andalannya membuat gorengan. Memang pilihannya tidak ada, mau tidak mau stoknya berkurang,” ujar Robianur.

Untuk stok minya goreng sendiri, dia memastikan masih cukup hingga dua bulan ke depan. Robiyan bahkan menjamin, harga Minyak goreng akan turun sebelum perayaan Natal dan tahun baru. Namun untuk distribusi, Disperindagkop Kaltim akan berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk pemerataan stok barang, khususnya daerah-daerah yang tidak memiliki pasar moderen.

“Stok ada di pasar moderen, pilihan perkotaan itu mudah karena ada pasar moderen, tapi daerah yang tidak ada pasar moderen itu sulit. Kami coba distribusi cepat ke daerah itu, contoh Mahulu karena pasar moderen tidak banyak. Tapi kalau Samarinda, Balikpapan, Bontang, PPU mungkin aman, banyak pasar moderen. Pengurangan ini 30 persen, tapi masih aman kalau sampai 2 bulan ke depan,” terangnya.

“Masyarakat tetap tenang. Kalaupun ada kenaikan, inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Tugas kami membantu masyarakat agar segera stabil. Kami jamin, sebelum hari besar Natal dan tahun baru akan stabil,” tutup Robianur.

Penulis : Oen
Editor : M Jay

Don`t copy text!