Oleh: Muhammad Reza Ardhana, Wasis Sirutama, Susilo

Masa lansia merupakan periode penutup dalam periode hidup seseorang.

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2), (3), (4) Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, disebutkan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Pada tahap ini, seseorang akan mulai mengalami berbagai kemunduran terhadap kondisi fisik, kognitif, dan sosialnya.

Beberapa karakteristik juga dapat menandakan masa lansia dari seseorang, diantaranya :
1. Gangguan daya ingat
2. Fungsi sebagai seseorang yang dituakan
3. Kelekatan dengan objek-objek yang dikenal
4. Perasaan tentang siklus kehidupan
5. Kontrol terhadap takdir
6. Orientasi ke dalam diri
7. Perasaan tentang penyempurnaan atau pemenuhan kehidupan
Darmojo (dalam Basuki, 2015).

Mengalami masa lansia dengan dikelilingi oleh orang tersayang dan badan yang sehat, tentunya adalah impian semua orang. Tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan tersebut. Salah satu contoh yang dialami lansia sebut saja, AJ. Dia adalah lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri jalan Mayjen Sutoyo, Samarinda.

Tinggal sejak tahun 2001 di panti, AJ memang sebelumnya mengidap penyakit stroke yang membuatnya hanya bisa duduk di kursi roda. Gejala penyakit tersebut telah dirasakannya Sejak berusia 7 tahun, dimana akhirnya membuat AJ mengalami gangguan dalam berbahasa yang disebut disartria.

Disartria yaitu salah satu gangguan berbahasa, di mana penderita tidak mampu mengartikulasikan kata-kata dengan tepat. Penyebabnya adalah adanya kerusakan pada bagian otak yang mengendalikan otot-otot untuk menghasilkan suara atau mengatur gerak alat-alat vokal.

Pada AJ, ketika diajak mengobrol maka jawaban yang diberikan hanya terdengar berupa gumam. Misalnya ketika ditanya, “sejak kapan ada di sini?”, dia menjawab, “dua puduh sadu”. Yang sebenarnya dimaksud ada dua ribu satu.

Dalam kasus disartria atau gangguan kebahasaan lainnya, para ahli menyarankan agar penderita selalu diajak berkomunikasi agar selalu terlatih menggunakan kata-kata dan alat vokal. Tentunya tidak akan lancar dan jelas pada awalnya. Namun, jika latihan terus dilakukan akan ada kemungkinan penderita untuk sembuh (Subyantoro, 2013).

Oleh karena itu, merawat lansia pada hakikatnya, kita merawat bahasa juga. Bahasa yang terdapat dalam diri mereka. (***)

Don`t copy text!