MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Sekretaris Komisi III DPRD Kota Samarinda Muhammad Novan Syahronny Pasie meminta kepada OPD terkait untuk tidak mudah mengeluarkan perizinan pembukaan lahan kawasan perumahan, sebelum melakukan kajian teknis lapangan.

Pasalnya, kata dia, banyak contoh kejadian pembukaan lahan kawasan perumahan yang dilakukan secara asal-asalan akhirnya berujung pada bencana longsor maupun banjir, hingga merugikan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Dia menyebut, salah satu contoh pembukaan lahan perumahan elite yang ada di kawasan perbukitan di Jalan M Said, Lok Bahu. Beberapa waktu lalu longsor dan banjir lumpur menerjang puluhan rumah warga di wilayah tersebut, lantaran pengarapan lahan perumahan, yang belakangan diketahui perizinan masih dalam proses.

“Kasus perumahan ini, untuk izinnya belum, baru proses. Ternyata area untuk perumahan itu 40 hektar, termasuk area di Bukit Mediterania. Sedang untuk perumahan ” PR ” ini luas area 14 hektar. Makanya, dengan perizinan yang ada, mereka harus menyesuaikan lagi dengan pembukaan perumahan yang baru, ” katanya.

Novan menyebut, dari hasil sidak yang dilakukan pihaknya bersama instansi terkait beberapa waktu lalu, diketahui area yang digarap untuk pembangunan perumahan “PR” tersebut berada di lokasi perbukitan curam.

“Ini area ada beberapa yang memang secara fotografi curam hingga perlu kajian teknis lagi dari konsultan, ” katanya.

“Kalau dari OPD yang melakukan kajian teknis, itu harus disesuaikan lagu fotografinya. Karena jika melihat kondisi di lapangan ini berbahaya, tidak bisa dengan sistem kluster, ” sambung Novan.

Kepada pengembang perumahan “PR”, dia juga meminta agar tidak melakukan aktivitas pengerjaan lanjutan untuk sementara waktu. Namun yang dilakukan adalah harus segera melakukan aktivitas penanggulangan bencana yang bisa berdampak pada warga di sekitarnya.

” Mereka sudah membuat brojong, salah satu rekomendasi penanggulangan kalau ada aktivitas di sana. Tapi bukan aktivitas pematangan, karena sudah disegel. Apalagi menurut laporan BPBD, dalam 2 pekan ke depan akan mengalami cuaca ekstrim. Sehingga ini dilakukan agar tidak terjadi dampak yang lebih parah lagi, ” pungkasnya. (Adv/Koko)

Don`t copy text!