Mediaborneo.net, Jakarta – Industri fesyen muslim membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah produk.
Peluang tersebut tercermin dari keikutsertaan tiga desainer asal Kaltim, yakni You.Eky, Anisdhya, dan Ratie, dalam Indonesia International Modest Fashion (IN2MF) pada gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
ISEF 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan ini mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital” dengan slogan “Kebaikan untuk Semua”.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Timur turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan membawa potensi fesyen muslim daerah ke panggung nasional. Kehadiran tiga desainer Kaltim menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kreativitas lokal sekaligus membuka peluang pengembangan industri fesyen muslim di daerah.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menilai pengembangan industri fesyen muslim perlu didukung oleh penguatan kapasitas pelaku usaha, akses pembiayaan, dan perluasan pasar.
“Industri fesyen muslim memiliki peluang untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif daerah. Potensi tersebut perlu didukung dengan peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas usaha, serta akses pemasaran yang lebih luas agar mampu bersaing di pasar nasional,” katanya.
Partisipasi dalam ajang seperti IN2MF dapat menjadi kesempatan bagi desainer daerah untuk memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas. Selain menampilkan kreativitas, keterlibatan dalam kegiatan berskala nasional juga berpotensi membuka ruang pertemuan dengan konsumen, mitra usaha, dan jaringan pemasaran baru.
Namun, pengembangan industri fesyen muslim tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas desain. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan kualitas bahan, konsistensi produksi, karakter produk, serta kemampuan menyesuaikan desain dengan kebutuhan pasar.
Penguatan aspek bisnis menjadi penting agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada kegiatan promosi atau peragaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap pemasaran digital juga dapat membantu pelaku usaha menjangkau konsumen di luar wilayah Kalimantan Timur. Dengan strategi pemasaran yang tepat, produk fesyen muslim daerah berpeluang memperoleh pasar yang lebih luas.
“Keikutsertaan desainer daerah dalam ajang nasional perlu menjadi momentum untuk memperkuat keberlanjutan usaha. Kreativitas harus berjalan beriringan dengan kualitas produk, kemampuan produksi, dan pemanfaatan kanal pemasaran digital,” kata Jajang.
Pengembangan industri fesyen muslim membutuhkan dukungan ekosistem yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, komunitas kreatif, dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas, pendampingan bisnis, akses pembiayaan, serta pembukaan jaringan pemasaran.
Dalam konteks pengembangan ekonomi syariah, BI Kaltim mendorong sinergi dengan pemerintah daerah, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), lembaga keuangan syariah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi pelaku usaha lokal sekaligus meningkatkan kontribusi industri fesyen muslim terhadap perekonomian daerah.
“Penguatan ekosistem ekonomi syariah membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, pelaku fesyen muslim di Kalimantan Timur diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauan pasarnya,” kata Jajang.
Partisipasi tiga desainer Kaltim di IN2MF 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi fesyen muslim daerah. Ke depan, penguatan kualitas produk, kapasitas usaha, dan akses pasar akan menjadi bagian penting dalam mendorong industri tersebut tumbuh secara berkelanjutan. (Oen/M Jay)












