MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Nidya Listiyono angkat suara terkait penutupan aplikasi Tiktok oleh pemerintah.

“Kalau memang bicara promosi jualan, kan ada media lainnya dan kemudian ketika tiktok ditutup, dampaknya kepada para UMKM yang ada di Indonesia dan omsetnya jadi turun dan sebagainya,” ujarnya.

Tak dipungiri, kata Nidya Listiyono, keberadaan aplikasi Tiktok maupun aplikasi lainnya menjadi wadah yang sangat memudahkan bagi pelaku usaha untuk memasarkan usahanya. Yang mana, mayoritas pelaku usaha tersebut banyak dari UMKM.

“Memang ini masalah persaingan, apakah ini menjadi persaingan sehat atau tidak sehat, tentu banyak variabelnya. Yang harus kita lihat adalah uji lapangan,” katanya.

Namun dengan dikeluarkannya kebijakan penutupan aplikasi tersebut untuk usaha, menurut Nidya Listiyono, pasti memiliki pertimbangan-pertimbangan.

“Kebijakan ini untuk melindungi para pedagang-pedagang di pasar. Tapi para pedagang online yang merasa omsetnya turun sampai 50 persen, kalau yang saya dengar,” ujarnya.

Kepada pelaku UMKM, dia mendorong untuk lebih berkreatif lagi memasarkan usahanya.

“Kalau saya, lebih kepada supaya teman-teman para pengusaha UMKM untuk harus lebih kreatif lagi. Karena sekarang dunia digitalisasi ruangnya tidak ada batas, anggap ini sebuah tantangan, supaya kedepan jangan sampai ada lagi saluran-saluran lain yang bisa digunakan oleh pedagang lain,” katanya.

“Harapan saya, bagaimana berkreatif, karena sekarang persaingan tidak ada batasannya. Kalau Tiktok ada di Indonesia, kalau di luar negeri kan bisa barang dari luar masuk ke Indonesia, sehingga tidak bisa memonitor dengan kebijakan kita,” pungkasnya. (HK/M.Jay/Adv/DPRD Kaltim)

Don`t copy text!