MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Anggota Komisi III DPRD Samarinda Sutrisno menyoroti mengenai larangan lintas bagi kendaraan bertonase besar di atas Jembatan Mahkota 2.

Dirinya juga mempertanyakan, nantinya setelah Samarinda memiliki terowongan, apakah akan dapat dilalui kendaraan bertonase besar. Pasalnya kata Sutrisno, kendaraan bertonase besar adalah salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di Samarinda, namun geraknya masih dibatasi.

“Jangan sampai juga nanti seperti Jembatan Mahkota yang bisa lewat hanya mobil-mobil kecil. Padahal itu akses keluar masuk jalan tol, sedangkan yang menyumbang PAD itu truk-truk yang bermuata besar. Nantinya apakah bisa juga melalui terowongan?, ” ujarnya.

Dia menilai, dengan banyaknya pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan terowongan di Samarinda akan percuma, jika tidak bisa dinikmati semua masyarakat. Termasuk mobil-mobil bertonase besar.

“Otomatis percuma saja kita maksimalkan pembangunan yang pada akhirnya mobil besar tidak bisa melintas di situ,” katanya.

Masih kata Sutrisno, pembangunan Jembatan Mahkota 2 memerlukan waktu yang lama dan dengan biaya yang besar. Tetapi justru setelah rampung tidak bisa dinikmati semua masyarakat. Padahal kata dia lagi, jembatan tersebut telah melalui hasil uji coba yang matang.

“Jembatan itu dibangun dengan waktu yang panjang, dengan biaya besar miliaran, ternyata mobil beban berat tidak bisa lewat, ya mubajir, ” katanya.

“Jembatan ini juga sebenarnya sudah uji beban. Makanya itu, permasalahan kita kalau terowongan juga dibuat, apakah bisa dilalui truk roda 10 atau tronton, bis juga bisa lewat di situ? Karena sebenarnya dari sana yang membuat PAD kita besar, sehingga perputaran ekonomi bisa juga berjalan, ” tandasnya. (Adv/Koko)

Don`t copy text!