MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Perkembangan dan kemajuan informasi digital saat ini memacu semangat Perpustakaan Universitas 17 Agustus (Untag) Samarinda untuk mampu mengimbangi, dalam rangka meningkatkan layanan bagi Pemustaka.

Perpustakaan ini tidak hanya memberikan layanan manual, tetapi juga layanan berbasis digitalisasi.

Tidak sedikit koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan Untag Samarinda yang telah dialih media digitalkan. Upaya ini dilakukan dalam rangka untuk menjaga kelestarian dari buku-buku tersebut. Terlebih koleksi buku itu adalah buku-buku sejarah.

Perpustakaan Untag Samarinda memiliki jumlah koleksi buku lebih dari 12.000 judul dengan ratusan ribu eksemplar. Mulai dari buku-buku terkait program study (Prodi) Hukum, Ekonomi, Fisipol, Sospol, Pertanian, Kesehatan hingga koleksi judul buku fiksi, non fiksi dan novel.

Staf Unit Pengolahan Koleksi Perpustakaan Untag Samarinda Andi Ferawati Mappatunru menyebut, banyak dari buku-buku koleksi Perpustakaan Untag Samarinda yang sudah “tua”, sehingga untuk tetap menjaga buku-buku tersebut tetap aman, dilakukan alih mediakan ke dalam bentuk digital.

Terdapat beberapa syarat untuk menentukan sebuah buku layak untuk dialih medikan. Diantaranya, selain menjadi buku langka, jumlah buku tersebut terbatas dan buku mengalami kerusakan.

“Koleksi buku-buku yang lama sudah kita alih mediakan ke bentuk digital dan untuk koleksinya sudah banyak,” ucapnya.

Untuk seluruh koleksi buku-bukunya, kata Andi, Perpustakaan Untag Samarinda belum pernah melakukan pemusnahan, lantaran tidak sedikit dari koleksi buku-buku itu yang banyak dicari Pemustaka.

“Kita tidak akan musnahkan, karena buku lama pasti ada beberapa yang akan mencari, biasanya buku semakin lama semakin langka. Jadi kita lakukan perawatan berkala. Untuk perawatan buku, kita perbaiki kalau sekiranya rusak, caranya bermacam-macam tergantung tingkat kerusakannya juga. Alhamdulillah kalau dimakan rayap tidak, karena kita selalu menjaga buku-buku di sini,” terangnya.

Sejak Perpustakaan Untag Samarinda menggunakan sistem layanan digitalisasi, Andi mengatakan, koleksi buku-buku lebih aman. Pengembalian buku yang dipinjam oleh Pemustaka pun selalu kembali tepat waktu.

“Selama kita menggunakan data digital ini semua buku kembali. Selain itu mahasiswa sendiri seperti sudah sadar diri, jadi rata-rata pengembalian tepat waktu. Memang buku yang tidak kembali ada, selama dulu masih diberlakukan peminjaman bebas pinjam atau bebas pustaka, karena kami belum menggunakan data digital yang belum terkonek dengan mahasiswa,” katanya.

Kendati telah menggunakan layanan digitalisasi untuk keamanan buku, namun Perpustakaan Untag Samarinda tetap menerapkan aturan sanksi denda kepada Pemustaka yang tidak mengembalikan buku melebihi batas waktu yang ditentukan, ataupun kondisi buku hilang.

“Peminjaman buku maksimal 3 buku selama seminggu dengan 3 kali perpanjangan. Jika melewati batas itu, maka dikenakan sanksi. Karena buku itu eksemplarnya tidak banyak, ditakutkan ada juga yang ingin meminjam. Kalau misalnya mahasiswa ini menghilangkan buku itu, maka wajib mengganti dengan judul yang sama atau biasanya mereka mengganti uang seharga buku atau mengganti dengan buku yang sekiranya kita butuhkan,” pungkasnya. (Adv DPK Kaltim/Koko/M Jay)

Share
Don`t copy text!