MEDIABORNEO.NET, SAMARINDA – Seksi Pengolahan dan Perawatan Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPK) Kaltim memiliki peran yang sangat penting untuk menyelamatkan kembali koleksi buku-buku yang rusak.

Kepala Sub Koordinasi Seksi Pengolahan dan Perawatan Bahan Pustaka DPK Kaltim Winda Hapiana menjelaskan, ada 4 kegiatan di seksinya, diantaranya perbaikan buku rusak.

“Subjek kita adalah buku-buku di layanan rusak dan tidak layak ditayangkan lagi, kemudian kita identifikasi, itu ada tim sendiri yang mengolah yang dilakukan oleh pustakawan, lalu diantar ke kami. Setelah itu tim kami mengidentifikasi lagi, apakah buku tersebut rusak berat atau ringan. Banyak aspek penilaian apakah buku ini akan diperbaiki lagi. Misalnya kita nilai seberapa besar buku tersebut rusaknya,” jelasnya.

Sementara, untuk buku-buku yang kondisinya rusak berat, kata Winda, akan diajukan untuk pemusnahan.

“Yang rusak akan diperbaiki di ruangan ini, kalau yang rusak berat kita ajukan sebagai penghapusan buku, karena itu masuk dalam belanja modal,” sebutnya.

Menurut Winda, mayoritas buku-buku yang rusak adalah buku-buku yang paling sering dibaca dan dipinjam oleh Pemustaka.

“Semakin rusak buku, padahal semakin bagus, artinya sering dibaca. Biasanya buku itu sasarannya yang dibaca mahasiswa atau peneliti. Nah buku-buku ini banyak digunakan, jadi tingkat kerusakan buku tinggi. Seperti buku-buku umum, buku psikologi dan buku agama, itu buku yang paling banyak kita ambil sebagai objek perbaikan,” ungkapnya.

Winda menambahkan, buku-buku yang rusak setelah dilakukan perbaikan, maka hasilnya akan menjadi lebih baik dan layak untuk dibaca kembali.

“Kondisinya seperti itu (rusak, red), tapi akan kaget setelah bagus akan kita tampilkan lagi di layanan,” pungkasnya. (Adv DPK Kaltim/Koko/M Jay)

Don`t copy text!